Tentang Menulis

Hampir dua bulan bekerja dari rumah ini benar-benar mengajarkan banyak hal untuk diri sendiri. Dari beradaptasi dengan berbagai normal baru, menjaga kesehatan fisik dan mental, sampai mengingat berbagai hal yang layak dikenang, atau bahkan yang tidak layak dikenang.

Di media sosial, saya melihat hal yang terakhir ini juga menjadi pengalaman kolektif banyak orang. Setidaknya di Twitter dan Instagram, banyak orang yang berbagai foto-foto lawas mereka. Banyak orang yang terganggu terutama yang tantangan-tantangan buat posting foto selfie. Lama-lama hal itu memang jadi membosankan. Tapi setiap orang punya cara masing-masing untuk menjaga kewarasan di masa pagebluk ini.

Continue reading

Balairung dan Berita Pemerkosaan

*Untuk teman-teman yang mengecam berita BPPM Balairung UGM tentang kasus pemerkosaan*

Admin twitter AJI Surabaya menyebut berita Balairung sebagai “koplak”, dan, sambil mengutip kode etik jurnalistik, “tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi”. Sementara beberapa komentar lain menyebut bahwa berita Balairung mirip cerita porno stensilan yang “menjadikan duka korban sebagai sumber jualan klik”, “pembaca tidak mau tahu soal cerita bagaimana korban diperkosa”. Balairung juga disebut sebagai “media berotak dangkal” dan “aktivis yang sok heroik”.

Balairung sudah memberikan tanggapan berbagai tuduhan itu dengan sangat baik. Tanggapan itu memperkuat berita tentang pemerkosaan yang merupakan salah satu karya jurnalistik terbaik (tidak hanya pers mahasiswa tetapi juga di media arus utama) yang saya baca tahun ini. Bravo buat Balairung.

Continue reading

Pers Mahasiswa, Nasibmu Kini

Pemberedelan pers mahasiswa Lentera di Salatiga menyisakan banyak hal yang menarik untuk didiskusikan. Pertama tentang isu 1965 yang diangkat oleh Lentera. Kedua, tentang eksistensi pers mahasiswa itu sendiri. Ada banyak pemberedelan dan aksi kekerasan terhadap pers mahasiswa, terutama pasca 1998. Namun baru kali ini pemberedelan memicu respon yang demikian masif– setidaknya di media sosial.Terasa ironis memang jika melihat pers mahasiswa diperhatikan justru ketika ia diberedel. Sementara di hari-hari “normal”, kehadirannya hidup segan mati tak mau.

3 tahun lalu, saya menulis buku tentang pers mahasiswa. Buku ini diangkat dari skripsi saya di Jurusan Komunikasi UGM. Spesifiknya, buku ini adalah riset analisis isi berita-berita pers mahasiswa mengenai wacana komersialisasi pendidikan pasca-1998. Namun di bab 1-2, saya menulis konteks besar kondisi pers mahasiswa dan beberapa problem yang mengitarinya sampai saat ini. Masih relevan untuk meletakkan dimana sebenarnya posisi pers mahasiswa.

Dalam rangka -menjelang- ulang tahun Balairung ke-30 dan diskusi ihwal pers mahasiswa yang sedang ramai belakangan ini, buku tersebut saya unggah di blog, teman-teman bebas mengunduh dan membagikannya. Salam pers mahasiswa!

Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan