Polisi Lebay, Wasit Klise

tes tes *laporan pandangan mata pertandingan PSS Sleman vs Martapura FC di 16 Besar divisi utama liga Indonesia 2014, 16 September 2014* Hanya dibutuhkan satu polisi lebay untuk memprovokasi kericuhan. Waktu pertandingan sudah menunjukkan menit-menit akhir saat seorang polisi muda itu berlari naik ke tribun barat stadion Maguwoharjo. Dia ingin “mengamankan” beberapa penonton yang dianggap memicu pelemparan ke bench pemain Martapura FC. Sejak masih di sekitar bench, beberapa polisi memang berteriak “amankan, amankan!” sambil menunjuk-nunjuk ke arah tribun. Polisi muda itu lari mungkin karena ingin menjalankan tugas sebaik-baiknya. Atau bisa jadi caper. Atau mungkin sedang banyak pikiran. Continue reading

Sepakbola

bolaaa Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia.

Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup. Continue reading

Tabloid Bola

mbola Tanggal 3 Maret kemarin Tabloid Bola ulang tahun ke-31. Tabloid ini adalah teman yang setia menemani masa SD-SMP-SMA saya. Teman setia sebelumnya, Bobo.

Seorang tetangga saya yang supir truk, pertama kali memperkenalkan saya dengan tabloid ini jelang Piala Dunia 1998. Bola mengajari saya dua hal. Pertama, menulis. Entah kenapa setelah beberapa kali membaca Bola saya tertarik untuk menulis. Tiba-tiba saja kepikiran, mengambil catatan harian, dan mulai nulis. Setelah itu saya serahkan ke Bapak untuk disalin ulang dengan tulisan yang lebih bagus. Eh, ndilalah kok ya beberapa kali dimuat. Continue reading