Suara Pers, Suara Siapa?

PersPartisan-Pindai1-1160x820 Adakah pers yang netral, tidak partisan, dan objektif?

Pertanyaan semacam ini sungguh menggelisahkan terutama di masa-masa kritis pemilihan umum 2014 lalu. Berita-berita yang saling bertolak-belakang dan mengikuti garis politik pemilik media, opini publik yang terbelah secara diametral yang sisa-sisanya masih terasa sampai saat ini, sampai tuntutan kepada pers untuk bersikap netral dan tidak berpihak. Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan memulainya melalui pembahasan ihwal berita sebagai laku konstruksi realitas yang diproduksi secara sadar oleh jurnalis dan media. Selanjutnya akan melihat netralitas, objektifitas, serta partisan-tidak partisan sebuah pers dalam konteks historis di Indonesia. Continue reading

Jurnalis

Djaman sekarang, banjak sekali journalist jang gagah brani, tetapi moedah didjebak, sedang journalist jang tjerdik kebranian koerang (Marco Kartodikromo, Djawi Hiswara 13 Desember 1918)

Bandung, Januari 1907. Sekembalinya dari pengembaraan di Maluku, Tirto Adhi Soerjo menjadi jurnalis yang berbeda. Tidak seperti ketika memimpin surat kabar Soenda Berita dengan santun dan sabar, ia berubah menjadi begitu garang. Seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (1985), dalam setiap kesempatan, Tirto kerap menggunakan tulisan-tulisannya untuk memukul kekuasaan. Pram menduga, perubahan yang drastis itu terjadi karena selama di Maluku Tirto menyaksikan kebiadaban yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

Pengalaman tersebut yang menabalkan dirinya untuk menerbitkan Medan Prijaji dengan delapan pedomanbahwa surat kabar (pers) harus : memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, menjadi tempat pengaduan orang tersia-sia, membantu orang mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi atau mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha dan perdagangan. Medan Prijaji menunjukkan secara gamblang ke mana keberpihakan pers serta jurnalis harus diarahkan. Ia menelanjangi kolonialisme. Ia menjadi suara bagi kaum yang tidak bisa bersuara. Ia menumbuhkan harapan.

Ikhtiar yang menggerakkan rantai pergerakan. Tirto – meminjam istilah Takashi Shiraishi – adalah archetype bagi pemimpin pergerakan dekade berikutnya. Tentu bukan kebetulan melihat fakta bahwa kebanyakan tokoh-tokoh ini juga merupakan jurnalis yang menggunakan pers sebagai medium pergerakan. Delapan pedoman tersebut tidak hanya menandai pembentukan imajinasi sebagai sebuah bangsa tetapi jugamenancapkan tonggak awal bagi jurnalisme politik di tanah air. Continue reading