Pers Mengonstruksi Realitas

Peringatan Hari Pers Nasional tahun 2013 menandai episode-episode menegangkan dalam relasi antara pers dengan dunia politik di tanah air. Relasi ini menjadi semakin pelik menjelang pertarungan politik di tahun 2014. Pers dituduh sebagai pihak yang memiliki andil besar dalam kegaduhan politik. Beberapa partai politik terang-terangan menuduh pers memiliki peran besar dalam menurunkan elektabilitasnya.

Berita tentang pajak presiden dianggap sebagai bentuk penghinaan, alih-alih kritik. Singkat cerita, pers dituntut untuk bersikap “netral”. Untuk melihat fenomena tersebut, saya ingin meminjam pemikiran yang pernah disampaikan Walter Lippman. Dalam The Phantom Public (1927) Lippmann mengatakan bahwa berita yang disampaikan oleh media adalah laporan mengenai aspek tertentu dari sebuah eksistensi sosial. Karena hanya memotret aspek tertentu semata, media tidak mungkin bisa menjelaskan realitas secara utuh.

Alih-alih mencerminkan realitas, media justru mengonstruksi realitas itu sendiri. Konstruksi realitas ini dalam kajian media disebut sebagai framing. Framing adalah metode penyajian realitas di mana realitas atau dunia dipotret dan disederhanakan dengan standar tertentu yang kemudian ditampilkan kepada pembaca. Framing adalah keniscayaan yang pasti hadir dalam laku jurnalistik. Karena framing berhubungan dengan cara pandang dan pemaknaan sebuah media, fakta yang sama bisa disajikan secara berbeda sama sekali. Continue reading