The media and lessons from the election

20140823_174921 The presidential election is moving closer to a finale now that the Constitutional Court is hearing the challenge of the losing Prabowo Subianto-Hatta Rajasa candidate pair, but there are many things that we can learn from and discuss about the role of the media in this year’s race for the presidency. It is obvious that the mainstream media, both print and television, were biased toward presidential candidates because of the political affiliation of the media owners. We also saw smear campaigns sponsored by publications, such as Obor Rakyat, hide behind journalism; television station offices came under attack by members of a political party in protest of news report that they deemed inaccurate; and the media endorsed a certain candidate pair as shown by The Jakarta Post. The media plays two basic functions during elections. First, it provides basic information about presidential election mechanisms to provide information on the track record of each candidate. That kind of information is considered the basis for citizens to determine their political preferences. Continue reading

Buku yang Gagal Memenuhi Janjinya

IMG-20130105-00322

  • Judul Buku    : Jurnalisme Televisi Indonesia
  • Penulis            : Yadi Hendriana, Suryopratomo, dll
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan          : November 2012
  • Tebal               : ix + 214 halaman

Setiap membeli buku yang berisi kumpulan tulisan banyak orang, saya tidak pernah berharap muluk-muluk. Hampir bisa dipastikan buku tersebut tidak diniatkan untuk mengupas satu persoalan dengan detail dan mendalam. Ia lebih menjanjikan kekayaan perspektif dan bibliografi yang bisa digunakan untuk referensi. Dengan niat memperoleh dua hal tersebut saya putuskan membeli buku Jurnalisme Televisi Indonesia ini. Temanya menarik. Kajian tentang televisi yang selama ini jarang dibahas “serius” dalam kajian-kajian akademik di tanah air.

Di subjudul buku ditulis : Tinjauan Luar Dalam. Ada percik pemikiran para pengamat televisi, ada curahan ide para pekerja televisi. Tentu saya membayangkan buku ini akan memantik diskusi lebih lanjut. Bayangan saya ini pelan-pelan menghilang setiap saya membuka halaman demi halaman. Dimulai dari ketiadaan kata pengantar yang memadai. Tubuh buku ini dibagi menjadi tiga bagian : Pencerah Pers Indonesia, Tinjauan Jurnalisme, Tinjauan Profesionalisme. Kata pengantar sebenarnya bisa memberikan satu konteks yang tepat bagaimana cara membaca tiga bagian tersebut.

Ibarat sapu lidi, kata pengantar menjadi pengikat agar lidi-lidi tulisan di sekujur buku tidak berceceran. Buku ini hanya “diantarkan” kurang lebih setengah halaman oleh editor. Itupun hanya berisi kalimat normatif yang berusaha untuk “menjual” buku ini. Misalnya saja terlihat dalam kalimat “sangat beragam, kaya perspektif, dan visioner”. Tidak adanya kata pengantar ini jujur membuat saya sulit menangkap maksud pembagian struktur buku. Struktur yang tumpang tindih. Dan bau tergesa-gesa dalam pembuatan buku ini pekat terasa. Saya kira ia tidak dipersiapkan dengan serius dan lebih mengandalkan sebanyak-banyaknya penulis, alih-alih memunculkan perspektif baru.

Dalam satu tulisan Refly Harun yang berjudul IJTI : Memilih Jalan yang Memang Harus Dipilih di halaman 18 misalnya, Refly mengaku “i know nothing tentang IJTI”. Ketidaktahuan itu memang terlihat dari tulisannya yang hanya empat halaman. Kalaupun tulisan ini dihilangkan, tidak akan berarti apa-apa karena ia beririsan dengan tulisan Andi Mallarangeng yang menulis lebih detail.

Tumpang tindih selanjutnya muncul di bagian tinjauan jurnalisme dan profesionalisme. Asumsi saya tentu dua hal ini akan memberikan gagasan yang berbeda. Tinjauan jurnalisme memotret televisi dari luar dengan analisis atas berbagai kecendurungan tayangan televisi kontemporer. Dan tinjauan profesionalisme melihat aktivitas-aktivitas jurnalistik televisi dari dalam dirinya sendiri. Ternyata tidak.

Tulisan Yadi Hendriana berjudul Infotainment : Fakta atau Rekayasa yang dimasukkan dalam bagian tinjauan jurnalisme pada awalnya mempertanyakan apakah infotainment layak disebut sebagai karya jurnalistik atau tidak. Sayangnya, ia tidak mengeksplorasi pertanyaan tersebut dan berhenti pada satu kesimpulan: “Sekarang persoalan infotainment adalah persoalan bersama, bukan terletak pada perdebatan produk jurnalistik atau bukan. Apalagi, mau tidak mau, program ini sudah menjadi program favorit pemirsa dan laku di industri televisi”.

Kesimpulan tersebut tentu membuatnya lebih layak dimasukkan dalam tinjauan profesionalisme. Terutama tentang bagaimana seorang pelaku industri televisi memaknai infotainment dari dalam. Misleading seperti ini juga terbaca dengan jelas dalam tulisan-tulisan lain. Yang paling mengganggu dari buku ini selanjutnya, betapa banyaknya typo di sekujur buku.

Kita akan menemukan kata-kata seperti “jurlistik”, “juralisme”, “nmengandung”, “mempimpin”, “kasadaran”, “tafakaur”, “diisitilahkan”, “kebebesan”, “degan”, “krsis”, “ekternal”, “devinisi”, “katagori”, “pukan” dan masih banyak kata lain yang melelahkan jika saya tulis semua. Kemalasan editor buku yang diterbitkan penerbit sebesar ini tentu mengherankan. Tidak semua tulisan dalam buku ini “jelek”.

Ada beberapa tulisan yang cukup mencerahkan dan saya kira bisa menjadi masukan berharga bagi pelaku industri televisi. Misalnya saja Liputan Dokumenter tulisan Ivan Haris Prikurnia, dan Reportase Investigasi tulisan Yadi Hendriana. Tapi, sebagai sebuah buku, jelas buku ini telah gagal memenuhi janjinya. Demikian.