Isi Siaran dan Keresahan Publik

(Dimuat di Jawa Pos, 25 Agustus 2016)

*Refleksi Hari Televisi Nasional 2016

Salah satu hari yang penting namun jarang diperingati dan direfleksikan adalah hari televisi nasional yang jatuh setiap 24 Agustus. Di tanggal ini 3 stasiun televisi lahir yaitu TVRI (1962), RCTI (1989), SCTV (1990).  Dalam sejarah media massa di Indonesia, televisi memiliki posisi yang penting. Ia menjadi media yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Nielsen, kurang-lebih 95 % penduduk Indonesia menonton televisi. Angka ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan akses terhadap media-media lainnya. Ini artinya, televisi masih menjadi media yang berpengaruh bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Continue reading

Imperialisme Budaya di Televisi

buku bang ade

  • Judul              : Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global
  • Penulis           : Ade Armando
  • Penerbit          : Penerbit Buku Kompas
  • Terbit              : 2016
  • Tebal               : xvi + 288 halaman

Buku yang diangkat dari disertasi Ade Armando ini menjadi sumbangan penting dalam khazanah kajian ekonomi politik media di Indonesia. Melacak akar ruwetnya sistem penyiaran dan membanjirnya tayangan impor di televisi.

Menurut Ade Armando, dosen Universitas Indonesia dan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia periode pertama, televisi telah membantu Indonesia menjadi “pasar yang ramah” bagi produk-produk transnasional sebagai konsekuensi globalisasi ekonomi. “Pasar yang ramah” ini tidak hanya melalui iklan dan tayangan-tayangan impor yang pelan-pelan mendominasi wajah televisi, tetapi juga infrastruktur televisi.

Maka Anda tak perlu heran jika belakangan ini demam tayangan Turki mewarnai televisi, belum lama sebelumnya pernah muncul demam tayangan-tayangan Asia Timur, India, atau jauh sebelumnya Amerika Serikat. Apa yang ironis dari kondisi ini bukan ihwal sentimen nasionalisme atau anti asing. Problem yang kemudian muncul lebih karena dalam lanskap industri televisi (dan media secara umum) Indonesia kemudian hanya menjadi konsumen dalam pasar global bagi industri hiburan, alih-alih produsen, di negeri sendiri.
Continue reading

Ketika Media Membingkai SS

Seperti disampaikan Robert Entman dalam Framing : Toward Clarification of a Fractured Paradigm (1993), framing media terhadap berita mencakup dua hal : seleksi isu dan penekanan aspek-aspek tertentu dari sebuah isu.  Melalui dua hal tersebut media menyajikan, menonjolkan, menutupi, menggiring opini publik seperti yang mereka inginkan.

Dari situ juga bisa dilihat bagaimana “sikap politik” atau ideologi suatu media. Ada beberapa bagian dalam berita yang bisa dijadikan objek framing jurnalis atau media. Di antaranya yaitu : judul berita, fokus berita, dan penutup berita. Pada bagian mana sebuah framing berita diletakkan akan menjelaskan apakah framing yang digunakan – mengutip Entman (1993: 52)– berfungsi untuk i) defining problem (memetakan masalah berdasarkan pertimbangan umum), ii) diagnosing causes (mendiagnosis akar masalah dengan identifikasi kekuatan-kekuatan yang terlibat), (iii) making moral judgement (memberikan penilaian moral terhadap permasalahan) atau (iv) suggesting remedies (menawarkan solusi dengan menunjukkan apa yang seharusnya ada).

Saya tergelitik untuk membaca kembali tulisan lawas Entman tersebut setelah ribut-ribut dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Sitok Srengenge beberapa hari belakangan. Ribut-ribut ini tiba-tiba merebut ruang publik setelah sebelumnya penuh sesak dengan demo buruh, aksi mogok dokter, sampai ihwal pembagian kondom gratis. Komentator – sebagaimana biasa – datang silih berganti dengan segenap caci maki, kenyinyiran, pembelaan, dan sebagainya, dan seterusnya. Continue reading