Dilema Siaran Langsung Persidangan

(Dimuat di Koran Tempo, 27 September 2016)

Siaran langsung proses sidang pembunuhan menggunakan kopi bersianida dengan terdakwa Jessica Kumolo Wongso menarik dicermati. Hampir setiap sidang yang sudah berlangsung 24 kali (sampai artikel ini ditulis) disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Ini masih ditambah dengan berbagai program siaran lain, seperti berita, talk show, dan infotainment. Kadar peliputan yang sedemikian masif ini belum pernah ada dalam sejarah siaran langsung persidangan di televisi Indonesia.

Di satu sisi, siaran langsung semacam ini bisa membuat persidangan berjalan lebih akuntabel dan transparan. Sebaliknya, peliputan yang sedemikian masif membawa sejumlah persoalan yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh.
Continue reading

Ketika Media Membingkai SS

Seperti disampaikan Robert Entman dalam Framing : Toward Clarification of a Fractured Paradigm (1993), framing media terhadap berita mencakup dua hal : seleksi isu dan penekanan aspek-aspek tertentu dari sebuah isu.  Melalui dua hal tersebut media menyajikan, menonjolkan, menutupi, menggiring opini publik seperti yang mereka inginkan.

Dari situ juga bisa dilihat bagaimana “sikap politik” atau ideologi suatu media. Ada beberapa bagian dalam berita yang bisa dijadikan objek framing jurnalis atau media. Di antaranya yaitu : judul berita, fokus berita, dan penutup berita. Pada bagian mana sebuah framing berita diletakkan akan menjelaskan apakah framing yang digunakan – mengutip Entman (1993: 52)– berfungsi untuk i) defining problem (memetakan masalah berdasarkan pertimbangan umum), ii) diagnosing causes (mendiagnosis akar masalah dengan identifikasi kekuatan-kekuatan yang terlibat), (iii) making moral judgement (memberikan penilaian moral terhadap permasalahan) atau (iv) suggesting remedies (menawarkan solusi dengan menunjukkan apa yang seharusnya ada).

Saya tergelitik untuk membaca kembali tulisan lawas Entman tersebut setelah ribut-ribut dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Sitok Srengenge beberapa hari belakangan. Ribut-ribut ini tiba-tiba merebut ruang publik setelah sebelumnya penuh sesak dengan demo buruh, aksi mogok dokter, sampai ihwal pembagian kondom gratis. Komentator – sebagaimana biasa – datang silih berganti dengan segenap caci maki, kenyinyiran, pembelaan, dan sebagainya, dan seterusnya. Continue reading