Salju, Orwell, dan mereka yang tidak punya rumah

Salju dari dalam kereta

Ini Jumat terakhir di 2017. Jumat putih. Salju turun deras sejak semalam. Laporan cuaca sudah mengingatkan bahwa salju akan mengguyur sebagian besar wilayah Inggris Raya. Mobil-mobil yang parkir di dekat rumah tertimbun salju. Rerumputan di taman kecil di depan kamar sudah tidak kelihatan bentuk aslinya. Semua putih. Di flat sebelah, salah seorang penghuninya membuka jendela, sepertinya kaget melihat di luar sudah serba putih. Kami sempat beradu pandang sebelum ia menutup gorden jendelanya.

Saya segera berkemas membereskan tas. Sudah pukul 09.00, kereta ke Glasgow sekitar 45 menit lagi. Jarak 45 menit lebih dari cukup untuk menuju stasiun Leeds. Normalnya cuma butuh waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi di luar salju masih deras. Trotoar pasti licin. Mulai agak panik, saya berpikir apa lebih baik naik bis atau Uber. Cek di aplikasi, bis akan datang lebih lama. Menggunakan uber juga bikin was-was dengan kondisi jalan yang licin. Saya putuskan buat berjalan kaki. Payung sudah disiapkan. Continue reading

Menjadi Mahasiswa di Inggris

Screen Shot 2017-11-14 at 20.00.34

Bagaimana rasanya kuliah di luar negeri?” Beberapa teman menanyakan pertanyaan ini ke saya. Biasanya saya jawab: “ya biasa saja seperti kuliah, cuma di luar negeri”. Ini jawaban yang bisa dibilang sekenanya tapi serius. Euforia karena bisa kuliah di Inggris tidak terlalu lama saya rasakan. Apalagi begitu masuk masa perkuliahan yang segera menuntut konsentrasi karena daftar bacaan dan tugas-tugas yang sudah menunggu.

Banyak teman yang mengingatkan bahwa di hari-hari pertama saya mungkin akan mengalami culture shock, dari problem kebiasaan sehari-hari, cuaca, sampai persoalan makanan, apalagi ini pengalaman pertama saya ke luar negeri. Namun, kurang lebih dua bulan di Leeds, saya tidak menemui hambatan berarti terkait hal tersebut.

Continue reading

Main Futsal di Leeds

22254684_10214666404039623_1251548885455532764_o

“Wisnu, kamu suka main bola tidak?” Benito bertanya ketika kami sedang ngobrol santai di ruang tengah flat. Tentu saja saya jawab dengan semangat, suka sekali. Kemudian nyerocos bahwa 10 tahun belakangan saya tidak pernah main lagi di lapangan besar khususnya selama di Jogja dan Jakarta. Jadi selama tahun-tahun itu hanya main di lapangan futsal saja. Usai mendengarkan cerita saya, Benito menjawab, “kalau begitu nanti ikut main bola sama komunitas Italia di Leeds ya.”

Begitulah, dan Benito yang mahasiswa S3 di Leeds University ini mengajak saya ikut main bola dengan teman-temannya dari Italia. Ajakan ini saya iyakan dengan senang hati. Sejak berangkat dari Indonesia, saya memang sudah berniat untuk futsal secara rutin. Karena itu sepatu futsal jadi barang yang dimasukkan ke dalam koper.

Continue reading