La la la la la Leeds

WhatsApp Image 2018-06-25 at 02.50.48

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. ‘Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…”

Jus jeruk, coklat, susu, air putih, dan sepatu melayang di udara lapangan Millenium Square, Leeds. Menit 62, Inggris sudah unggul 6-0 dari Panama, suporter Inggris yang berada di sebelah kiri layar sudah tidak fokus menonton. Mereka berdiri, bernyanyi dan menari. Suar berwarna biru sudah dinyalakan. Polisi mulai mendekat dan bikin barikade, satu polisi merekam kerumunan dengan kamera. Tidak ada kerusuhan, hanya ratusan suporter yang merayakan kemenangan Inggris.

Dari kerumunan yang menari dan bernyanyi, sebagian besar wajah anak-anak muda. Mungkin seusia anak-anak SMP atau SMA. Inggris beruntung, tim nasionalnya hampir selalu tampil mengecewakan di turnamen-turnamen besar tapi mereka punya fans fanatik. Sama seperti timnas Indonesia. Kalaupun mereka masih lama tampil mengecewakan, setidaknya anak-anak muda ini sudah mulai menunjukkan fanatismenya. Dimulai dari keyakinan bahwa Inggris adalah negeri penemu sepakbola modern. Continue reading

Menonton Ed Miliband Dari Dekat

20180219_213955

Usai menuntaskan pidato politiknya dalam konferensi partai Buruh tahun 2014, Ed Miliband mengunci diri di dalam kamar hotel. Ia sangat marah dengan dirinya sendiri karena melupakan isu penting yang krusial dalam kampanyenya menuju pemilihan umum. Ia terlalu banyak berimprovisasi. Istrinya, Justine, berusaha menenangkan Ed. Namun percuma, Ed marah dan enggan ikut ke dalam pesta penutupan konferensi.

Situasi bertambah buruk ketika tim media sosial partai Buruh, tidak sadar dengan kondisi tersebut, mengirimkan naskah pidato Ed ke media. Ini praktik yang biasa saja. Namun jadi tidak biasa karena ada isu yang lupa diangkat Ed. Benar saja, media-media di Inggris kemudian menyadari ada perbedaan signifikan dalam pidato yang disampaikan Ed dengan apa yang tertulis di naskah.

Continue reading

Salju, Orwell, dan mereka yang tidak punya rumah

Salju dari dalam kereta

Ini Jumat terakhir di 2017. Jumat putih. Salju turun deras sejak semalam. Laporan cuaca sudah mengingatkan bahwa salju akan mengguyur sebagian besar wilayah Inggris Raya. Mobil-mobil yang parkir di dekat rumah tertimbun salju. Rerumputan di taman kecil di depan kamar sudah tidak kelihatan bentuk aslinya. Semua putih. Di flat sebelah, salah seorang penghuninya membuka jendela, sepertinya kaget melihat di luar sudah serba putih. Kami sempat beradu pandang sebelum ia menutup gorden jendelanya.

Saya segera berkemas membereskan tas. Sudah pukul 09.00, kereta ke Glasgow sekitar 45 menit lagi. Jarak 45 menit lebih dari cukup untuk menuju stasiun Leeds. Normalnya cuma butuh waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi di luar salju masih deras. Trotoar pasti licin. Mulai agak panik, saya berpikir apa lebih baik naik bis atau Uber. Cek di aplikasi, bis akan datang lebih lama. Menggunakan uber juga bikin was-was dengan kondisi jalan yang licin. Saya putuskan buat berjalan kaki. Payung sudah disiapkan. Continue reading