Menjadi Mahasiswa di Inggris

Screen Shot 2017-11-14 at 20.00.34

Bagaimana rasanya kuliah di luar negeri?” Beberapa teman menanyakan pertanyaan ini ke saya. Biasanya saya jawab: “ya biasa saja seperti kuliah, cuma di luar negeri”. Ini jawaban yang bisa dibilang sekenanya tapi serius. Euforia karena bisa kuliah di Inggris tidak terlalu lama saya rasakan. Apalagi begitu masuk masa perkuliahan yang segera menuntut konsentrasi karena daftar bacaan dan tugas-tugas yang sudah menunggu.

Banyak teman yang mengingatkan bahwa di hari-hari pertama saya mungkin akan mengalami culture shock, dari problem kebiasaan sehari-hari, cuaca, sampai persoalan makanan, apalagi ini pengalaman pertama saya ke luar negeri. Namun, kurang lebih dua bulan di Leeds, saya tidak menemui hambatan berarti terkait hal tersebut.

Continue reading

Main Futsal di Leeds

22254684_10214666404039623_1251548885455532764_o

“Wisnu, kamu suka main bola tidak?” Benito bertanya ketika kami sedang ngobrol santai di ruang tengah flat. Tentu saja saya jawab dengan semangat, suka sekali. Kemudian nyerocos bahwa 10 tahun belakangan saya tidak pernah main lagi di lapangan besar khususnya selama di Jogja dan Jakarta. Jadi selama tahun-tahun itu hanya main di lapangan futsal saja. Usai mendengarkan cerita saya, Benito menjawab, “kalau begitu nanti ikut main bola sama komunitas Italia di Leeds ya.”

Begitulah, dan Benito yang mahasiswa S3 di Leeds University ini mengajak saya ikut main bola dengan teman-temannya dari Italia. Ajakan ini saya iyakan dengan senang hati. Sejak berangkat dari Indonesia, saya memang sudah berniat untuk futsal secara rutin. Karena itu sepatu futsal jadi barang yang dimasukkan ke dalam koper.

Continue reading

Seperti Teman Lama Datang Bercerita

Pramugari Qatar Airways mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Heathrow, London. Saya lega. Setelah 15 jam penerbangan ditambah 3 jam transit di Doha, akhirnya sampai juga di Inggris. Semakin lega karena pramugari memberitahu bahwa cuaca di London saat itu 14 derajat celcius. Tidak jauh berbeda dengan cuaca rumah di malam-pagi hari, jadi saya merasa akan baik-baik saja dengan cuaca yang sebelumnya bikin saya khawatir.

Setelah melalui pintu imigrasi dan menunggu koper yang lumayan lama, seorang teman baik sudah menunggu di pintu keluar. Masih di dalam bandara, saya merasa cuaca masih baik-baik saja. Baru kaget ketika turun ke underground terminal 4 Heathrow buat naik kereta. Anginnya kencang sekali. Mendadak saya menggigil, lantas bertanya kepada teman saya, “ini ac bandara apa angin di luar?” Pertanyaan yang kemudian saya tahu sendiri jawabannya. London memang dingin, dan saya harus segera menyiapkan diri menghadapinya.

Continue reading