Menutup Catatan dari Leeds

WhatsApp Image 2018-11-24 at 00.38.50

Dua hari terakhir saya di Leeds dan London merangkum dengan baik perjalanan selama setahun lebih di Inggris: sedikit kacau di kepala dan kelelahan secara fisik.

Kekacauan dimulai dengan pembatalan kereta Leeds – London yang mestinya berangkat pukul 10.15. Ketika saya ke bagian informasi, saya hanya diberi solusi: saya harus ke York dulu dengan kereta tercepat dan dari sana baru pindah kereta ke London yang dijadwalkan berangkat pukul 11.20.

Continue reading

Menonton Setan Jawa Garin Nugroho

20170910_193014

“… konde iki tanda gedene katresnanku..”

Usai konde ditusukkan ke tangan kanannya dan lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu Asih, wajah Setio penuh dengan amarah, dendam, frustasi. Barangkali ia sadar, yang membuatnya ditolak adalah kemiskinannya. Sementara Asih berasal dari keluarga bangsawan. Ada jarak lebar yang membentang di antara keduanya. Dan tidak ada jalur lain yang lebih cepat untuk memangkas jarak tersebut selain melalui pesugihan kandang bubrah, meminta bantuan setan untuk melakukan apa yang tidak bisa dibantu oleh manusia.

Ini adalah kisah Faustian ala Jawa yang diolah dengan memukau oleh Garin Nugroho. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih yang diiringi dengan suara gamelan secara langsung. Latar belakang cerita ada di Jawa era kolonialisme Belanda. Saya terkesan dengan ceritanya, dan terutama dengan suara gamelan yang mengiringinya. Kadang lembut, kadang keras. Suara pesindennya melengking. Ia mengingatkan saya pada masa kecil, ketika sering diajak bapak nonton wayang, juga beberapa lirik campursari.

Continue reading

Seperti Teman Lama Datang Bercerita

Pramugari Qatar Airways mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Heathrow, London. Saya lega. Setelah 15 jam penerbangan ditambah 3 jam transit di Doha, akhirnya sampai juga di Inggris. Semakin lega karena pramugari memberitahu bahwa cuaca di London saat itu 14 derajat celcius. Tidak jauh berbeda dengan cuaca rumah di malam-pagi hari, jadi saya merasa akan baik-baik saja dengan cuaca yang sebelumnya bikin saya khawatir.

Setelah melalui pintu imigrasi dan menunggu koper yang lumayan lama, seorang teman baik sudah menunggu di pintu keluar. Masih di dalam bandara, saya merasa cuaca masih baik-baik saja. Baru kaget ketika turun ke underground terminal 4 Heathrow buat naik kereta. Anginnya kencang sekali. Mendadak saya menggigil, lantas bertanya kepada teman saya, “ini ac bandara apa angin di luar?” Pertanyaan yang kemudian saya tahu sendiri jawabannya. London memang dingin, dan saya harus segera menyiapkan diri menghadapinya.

Continue reading