La la la la la Leeds

WhatsApp Image 2018-06-25 at 02.50.48

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. ‘Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…”

Jus jeruk, coklat, susu, air putih, dan sepatu melayang di udara lapangan Millenium Square, Leeds. Menit 62, Inggris sudah unggul 6-0 dari Panama, suporter Inggris yang berada di sebelah kiri layar sudah tidak fokus menonton. Mereka berdiri, bernyanyi dan menari. Suar berwarna biru sudah dinyalakan. Polisi mulai mendekat dan bikin barikade, satu polisi merekam kerumunan dengan kamera. Tidak ada kerusuhan, hanya ratusan suporter yang merayakan kemenangan Inggris.

Dari kerumunan yang menari dan bernyanyi, sebagian besar wajah anak-anak muda. Mungkin seusia anak-anak SMP atau SMA. Inggris beruntung, tim nasionalnya hampir selalu tampil mengecewakan di turnamen-turnamen besar tapi mereka punya fans fanatik. Sama seperti timnas Indonesia. Kalaupun mereka masih lama tampil mengecewakan, setidaknya anak-anak muda ini sudah mulai menunjukkan fanatismenya. Dimulai dari keyakinan bahwa Inggris adalah negeri penemu sepakbola modern. Continue reading

Old Trafford yang Menua

Dua kali bermain di Old Trafford dalam debut di UEFA Europa League, dua kali memasukkan gol terlebih dahulu, dan akhirnya kalah. Kekalahan ini hadir dalam wajah yang identik. Janji Fergie untuk bermain lebih serius di Piala UEFA rasa-rasanya tidak ia tepati. Setelah kekalahan yang mengejutkan dari Ajax Amsterdam di leg kedua babak 32 besar yang lalu, opa asal Skotlandia ini mengaku sedikit menyesal telah memainkan empat wajah muda di barisan pertahanan. “Kesempatan bagus bagi Phil Jones Chris Smalling, tapi kekurangan pengalaman mereka membuat laga menjadi lebih ketat,” ungkapnya. Saya kira barisan pertahanan memang menjadi titik lemah MU musim ini. Mayoritas masih berusia di bawah 25 tahun yang minim pengalaman. Johny Evans sering membuat blunder, kartu merah melawan City bisa menjadi satu contoh. Hasrat Phil Jones untuk menyerang terlihat lebih besar dari tugasnya untuk bertahan, Chris Smalling masih sering ragu-ragu, dan Rafael, dia masih sangat sembrono. Kartu merah yang dia terima ketika melawan Muenchen dua tahun lalu di Liga Champion seharusnya cukup menjadi pelajaran. Tapi ternyata tidak. Kesembronoan itu jelas terlihat ketika gol ketiga Bilbao terjadi. Rafael menunggu bola yang berhasil di tepis oleh De Gea tanpa sadar bahwa di belakangnya Muniain mengejar bola. Akibatnya fatal. Munain bisa lebih dahulu menendang bola ke gawang. 3-1. Tidak hanya momen itu saja. Berkali-kali de Gea marah karena para pemain Bilbao memiliki banyak ruang kosong untuk menembak. Beruntung, jambul rambut khasnya bertuah. Ia main bagus tadi malam. Kiper muda Spanyol setidaknya berhasil mementahkan 7 peluang bersih Bilbao. Menggunakan banyak pemain muda barangkali merupakan agenda Fergie untuk menyiapkan fondasi kokoh buat United pasca ia tinggalkan nanti. Sayangnya, ia gagal memberikan pendamping yang tepat untuk anak-anak muda yang lebih pantas menjadi cucunya itu. Cedera silih berganti menghampiri Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Patrick Evra kadang masih terlihat gamang menjadi kapten di lini belakang. Tidak ada inspirasi dan wibawa ala Roy Keane, atau setidaknya Gary Neville. Pun tidak ada komando dari penjaga gawang seperti yang biasa dilakukan Peter Schmeichel atau Edwin van Der Sar. Duo kiper De Gea dan Anders Lindeergard terlihat jelas belum memiliki cukup pengalaman untuk mengontrol lini belakang. De Gea masih bimbang dalam menghadapi bola-bola jarak jauh dari luar kotak penalti. Lindeergard sebaliknya, gamang berhadapan dengan situasi one on one dan kemelut di dalam kotak penalti. Bukankah kelemahan lini belakang ini terlihat jelas menganga di musim ini? Old Trafford menjadi saksinya. Di liga, MU sudah dua kali kalah di kandang. 1-6 dari City, 2-3 dari Rovers. Di Piala Carling, tuan rumah bahkan tersingkir setelah dipermalukan Crystal Palace 1-2. Sementara di pentas Eropa, United sudah 5 kali memainkan pertandingan, tapi kebobolan sudah mencapai jumlah dua kali lipat dari angka itu, 10 gol! 3-3 vs Basel, 2-2 vs Benfica, 1-2 vs Ajax, dan 2-3 vs Bilbao. Entahlah. Selain faktor kelemahan lini belakang, jangan-jangan tuah Old Trafford sudah menurun seiring usinya yang semakin menua. Usia theatre of dreams ini memang hampir sama tuanya dengan United. Selama era Premier League, ia menjadi stadion kebanggaan Setan Merah yang rataan penontonnya paling banyak di Inggris. Lebih dari 75.000 orang menyaksikan MU ketika mentas di kandangnya sendiri. Yang menarik, jumlah rataan sebanyak itu ternyata tidak sebanding dengan dukungan yang diberikan oleh penonton. Penonton di Old Trafford terhitung sebagai penonton yang diam dan lebih suka memperhatikan permainan alih-alih berteriak dan bernyanyi memberi dukungan. Ini berbeda misalnya, jika kita bandingkan dengan penonton di Anfield, atau bahkan di White Hart Lane. Saking pendiamnya suporter United di Old Traffor, Roy Keane ketika masih menjadi kapten bahkan sampai jengkel. Dengan sedikit sarkastik ia berkata bahwa para suporter di Old Trafford seharusnya menghentikkan kebiasaan menyaksikan laga sambil makan burger dan minum coke. Mereka harus lebih banyak berteriak dan mengintimidasi lawan. Kalau anda sempat memperhatikan dua laga UEFA European League yang dilakoni United di kandang, Old Trafford terlihat lebih ramai dan semarak. Saya sempat berharap keramaian ini datang dari para Manchunian. Sayangnya tidak. Hiruk pikuk ini muncul dari tribun suporter tamu. Lihat saja betapa bentangan dan lambaian syal justru lebih sering dilakukan suporter Ajax dan Bilbao. Suporter Ajax bahkan membawa drum dan terompet. Kadang saya berpikir, kalau saya punya kesempatan untuk menyaksikan laga United di sana, mungkin saya akan membawa terompet dan berteriak-teriak. Persis seperti yang biasa saya lakukan ketika menyaksikan PSIS di Jatidiri? Hmm. Jangan-jangan penonton di Jatidiri dan stadion lain di Indonesia lebih atraktif dibanding Old Trafford? Tapi saya kira tidak. Ketidakbecusan PSSI mengurus sepakbola telah membuat olahraga ini menjadi semakin tidak menarik lagi di Indonesia. Tapi sudahlah. Oh, iya. Tentu saja saya berharap penampilan United di UEFA Europa League musim ini bisa setegar penampilan mereka di liga. Kekalahan 2-3 dari Bilbao bukan tidak mungkin untuk dikejar. Penalti Rooney di menit akhir adalah harapan. Ini membuat Setan Merah cukup menang dengan selisih 2 gol di San Mames nanti. Semoga.

Pengalaman Pertama

Ada banyak pengalaman pertama yang selalu meninggalkan jejak. Sulit dilupakan, dan mengendapkan kesan mendalam. Persis seperti saat aku mengenalmu. Itu adalah perjumpaan pertama kali. Perjumpaan yang tidak pernah aku bayangkan bakal sampai sejauh ini. Terlalu dalam, terlalu susah dilukiskan dengan kata-kata. Tentu saja aku tak akan pernah menyesali perjumpaan itu. Aku ingat, kau tiba-tiba saja mengajakku berpetualang ke dalam duniamu. Dunia yang belum benar-benar aku pahami. Dan entah kenapa aku mau saja mengikuti kemauanmu. Semacam gairah yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Cinta yang tumbuh pelan-pelan, tanpa syarat, dan pengertian untuk saling memahami. Dari sebuah kekalahan kau belajar untuk meraih kesuksesan. Pernah kau dicaci sebagai anak kecil yang bahkan belum layak untuk mendapatkan sebuah keberhasilan. Kau direndahkan, diremehkan. Tapi kau tak putus asa. Kesabaran tinggi dengan disiplin keras mampu kau terjemahkan menjadi kekuatan yang luar biasa. Dan tak ada yang berani merendahkanmu lagi. Kau berjalan tegak dengan penuh kebanggaan di depan mereka yang pernah melecehkanmu. Dalam sebuah hubungan, tentu saja ada episode-episode di mana kita sama merasakan kegembiraan, ada saat ketika kegembiraan itu luruh menjadi kesedihan dan kekecewaan. Dan itu terjadi dalam hubungan kita. Musim pertama aku mengenalmu, kau kehilangan gelar Premier League dan Piala FA yang “dijarah” Arsenal. Di Liga Champion, kau pun kalah di perempatfinal. Tapi entah, justru dari kekalahan-kekalahan itu aku mengenalmu. Cinta tumbuh dengan cara yang tak sepenuhnya kita pahami. Barangkali memang di titik itulah keindahannya. Musim berikutnya, kegembiraan datang beruntun. Awal mula bulan madu yang panjang. Treble winners menjadi jawaban yang elegan dari double winners yang diraih Arsenal musim sebelumnya. Telak. Selepas itu adalah dominasi, pelan-pelan menjadi hegemoni. Kau menjadi arus utamaDan seingatku, lingkungan membentukku menjadi seorang yang anti-kemapanan. Anti arus utama. Tapi entah kenapa untuk yang satu ini aku harus menjadi yang-arus-utama. Rasa-rasanya karena cinta. Kau adalah meta-teks tentang keberhasilan. 12 gelar Liga Inggris dalam 20 musim terakhir. 19 gelar sepanjang masa yang membuatmu menjadi tim terbanyak yang meraih gelar liga. Berbagai usaha klub lain untuk membuka selubung dominasi, menjadi counter hegemony, terlampau susah. Hanya sesekali saja. Itupun hampir semua tidak mampu konsisten.Musim berganti musim, musuh berganti musuh. Mulanya menjadi penantang utama Liverpool, kemudian datang gangguan dari Blackburn, lantas Arsenal, kemudian Chelsea. The Reds dan Manchester City cuma menjadi rival latih tanding saja. Buktinya, hanya Blackburn, Arsenal, dan Chelsea yang mampu menjadi juara di jeda gelarmu. Liverpool, yang pernah menghina habis-habisan, toh sekarang hanya mampu melihat. Seolah tak mampu berbuat apa-apa. Sepertinya memang tidak mampu. Apalagi City.Tapi memang setidaknya harus diakui, gangguan dari musuh-musuh “tradisional” lain terkadang cukup menyakitkan juga. Setidaknya ada beberapa pertandingan yang membekas dalam benak. Kekalahan 0-5 dari Chelsea tahun 1999, kekalahan 0-1 dari Arsenal di Old Trafford yang sekaligus memastikan Arsenal juara Liga Inggris tahun 2002,  kekalahan 1-4 dari Liverpool di Old Trafford tahun 2009. Betatapun, itu hanya menjadi kerikil sandungan di jalan. Seperti yang terjadi tadi malam, kekalahan 1-6 dari City hanya bentuk kecerobohan yang membuatmu terpeleset. Memalukan memang. Tapi pertandingan tadi malam tidak menandai berakhirnya sebuah era. Eramu masih akan terus berlangsung. Kekalahan telak ini adalah kekalahan terbesar dalam 85 tahun terakhir. Keyakinanku, kekalahan ini hanya pertanda bahwa musuhmu sudah berganti lagi. Bukan Arsenal, Chelsea, apalagi Liverpool. Musuhmu saat ini lahir dalam rupa tetangga satu kota yang berisik. Musuh yang lahir dari penetrasi kapital di lapangan hijau. Bukan dari kesabaran dan kesungguhan yang selalu kau perlihatkan. Kekalahan yang memalukan, menyedihkan, mengecewakan, tapi musim belum berakhir. Bukankah pemenang adalah mereka yang tertawa di akhir musim? Glory Man United!