Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading

Buku-Buku yang Saya Baca Tahun 2015

Buku Yang Kubacaa

Seperti tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, buku yang saya beli tahun ini lebih banyak dari buku yang saya baca. Ada banyak buku yang sampai sekarang masih bersih karena belum saya baca sampai selesai. Beberapa masih terbungkus plastik. Bahkan sering saya lupa apakah sudah membeli sebuah buku atau belum ketika jalan-jalan ke toko buku. Yang pasti, tahun ini saya lebih banyak membeli buku-buku lawas di toko buku daring yang begitu banyak di Facebook.

Ada sekitar 80-90 buku yang saya baca tahun 2015. Lebih dari setengah dari jumlah tersebut adalah buku-buku tentang kajian media dan komunikasi. Tentu saja tema yang saya minati, selain karena tuntutan pekerjaan. Tema-tema lain jelas sastra, sepakbola, politik, sejarah, agama, juga biografi. Tapi dari jumlah tersebut tidak saya baca sampai tuntas, ada yang saya baca sampai habis, ada yang saya baca hanya sampai separuh halaman, ada juga yang saya baca secara sekilas karena merasa kecele dengan isi buku. Jadi kalau diperas, ada sekitar 50 buku yang saya baca tuntas. Berarti rata-rata 2 buku per bulan.
Continue reading