Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading

Dilema Siaran Langsung Persidangan

(Dimuat di Koran Tempo, 27 September 2016)

Siaran langsung proses sidang pembunuhan menggunakan kopi bersianida dengan terdakwa Jessica Kumolo Wongso menarik dicermati. Hampir setiap sidang yang sudah berlangsung 24 kali (sampai artikel ini ditulis) disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Ini masih ditambah dengan berbagai program siaran lain, seperti berita, talk show, dan infotainment. Kadar peliputan yang sedemikian masif ini belum pernah ada dalam sejarah siaran langsung persidangan di televisi Indonesia.

Di satu sisi, siaran langsung semacam ini bisa membuat persidangan berjalan lebih akuntabel dan transparan. Sebaliknya, peliputan yang sedemikian masif membawa sejumlah persoalan yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh.
Continue reading

Terorisme, Media Sosial, dan Kita

Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda (2008), Manuel Soriano dengan mengutip Marshall McLuhan bilang bahwa “without communication terrorism would not exist”. Inti argumennya sederhana: perkembangan teknologi media telah membuat para kerja para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif.

Soriano mula-mula melakukan analisis atas serangan teroris di Amerika Serikat 11 September 2001. Dari sana ia melakukan analisis bahwa pelaku teror sudah memperhitungkan dengan cermat bahwa lokasi yang akan disasar merupakan tempat strategis bagi liputan media. Tidak hanya bagi media-media besar, tetapi juga bagi orang-orang biasa baik turis maupun penduduk lokal yang bisa mendokumentasikan aksi-aksi tersebut. Tentu saja dengan gambar-gambar dan video yang sensasional, dramatis, dan terutama: penuh cerita personal.

Ihwal personalisasi ini menjadi penting karena dalam kondisi di mana lokasi sangat strategis untuk pemberitaan, media-media akan berusaha tidak melihat dari sudut pandang yang sama seperti jumlah korban, pelaku teror, dan sebagainya. Setelah fakta-fakta keras itu didapatkan, media akan fokus untuk menggali cerita-cerita personal dan membuat cerita menjadi lebih terasa “dekat” bagi publik.
Continue reading