Tembok York

20171202_095248
Clifford Tower

Musim dingin sudah sampai di York. Memasuki stasiun, sisa salju yang mengguyur dua hari sebelumnya masih terlihat jelas. Saya menengok laporan cuaca di telepon genggam, 30 celcius. Pukul 9 matahari bersinar terik, tapi dengan suhu seperti itu, kehangatannya cuma menyapa sekilas. Setelah itu menghilang. Semu. Trotoar sedang licin-licinnya, campuran antara sisa salju, es, dan guguran daun-daun. Ada dua alasan untuk berjalan pelan-pelan: menghindari jatuh terpeleset atau takut sepatu menjadi kotor karena jalanan yang becek.

Hari ini (2/12) saya berencana menyusuri tembok yang mengelilingi pusat kota York. Ini tembok yang dibangun sejak era kekaisaran Romawi di tahun 43. Tidak semua tembok masih bisa bertahan melewati waktu sampai saat ini, namun sebagian besar masih utuh, sekitar 2 mil mengelilingi pusat kota York. Sayang karena cuaca yang bikin jalanan tembok licin, tembok ditutup dan saya tidak bisa naik di atasnya.

Saya akhirnya menyusuri tembok dari pinggir jalan. Ada empat gerbang utama dan dua gerbang kecil (disebut bar) yang terletak di beberapa bagian tembok ini. Dulu, gerbang-gerbang ini berfungsi untuk tempat pemeriksaan siapa saja yang akan masuk ke York dan sekaligus sebagai tempat pemantauan musuh di era perang. Ada juga gerbang yang dulu pernah jadi kantor polisi dan penjara sementara untuk para kriminal.

Gerbang terdekat dari stasiun adalah Micklegate Bar, pintu masuk ke York sebelah selatan. Jaraknya hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Nama Micklegate sendiri berarti “jalan raya”, berasal dari pengaruh bangsa Viking yang pernah menguasai York. Dari beberapa tulisan tentang sejarah York yang saya baca, ini adalah gerbang terpenting dari empat gerbang utama. Raja atau ratu Inggris yang datang ke York selalu melintasi gerbang ini dengan proses meminta izin kepada walikota York yang berjaga di gerbang.

Di depan Micklegate Bar ada lampu merah, orang berlalu-lalang. Ada yang mengarah ke dalam gerbang, ada yang ke arah stasiun. Beberapa orang melihat menu dan harga makanan yang ada di depan setiap warung makan. Saya menghabiskan segelas coklat panas yang saya beli di stasiun sebelum masuk ke gerbang Micklegate. Oh iya, ketika membeli coklat panas, di gelas ditulis nama Winson. Mungkin nama Wisnu susah didengar dan dieja oleh penjualnya. Lumayan dapat nama British.

Tidak sampai 20 meter masuk ke dalam Micklegate Bar, saya belok ke kanan mengikuti arah tembok. Di kanan kiri adalah perumahan warga, khas rumah kelas pekerja di Inggris yang sempit dan berderet-deret. Jalanan depan rumah jadi tempat parkir mobil. Saya melihat dua anak kecil berpakaian tebal sibuk berbincang, keduanya menggunakan earphone. Sekitar 10 menit kemudian, saya sampai di Victoria Bar.

Victora Bar tidak termasuk empat gerbang utama, Bersama Fishergate Bar, ia adalah gerbang kecil yang baru dibuat jauh sesudah gerbang utama tadi. Sementara gerbang utama memiliki tower, gerbang kecil tidak, di atasnya langsung tembok. Nama Victoria sendiri berasal dari nama Ratu Victoria yang pada tahun 1838 dinobatkan sebagai ratu, tahun ketika gerbang ini dibuat.

Dari Victoria Bar, saya menyusuri tembok lagi. Pepohonan yang ada di kanan kiri tembok sudah kehilangan daun-daun, rontok dihantam musim gugur. Tembok ini tersambung satu mengelilingi pusat kota. Ia terpotong di beberapa bagian, namun tetap bisa ditelusuri sambungannya dari satu gerbang ke gerbang lainnya.

Saya melewati jembatan Skeldergate yang membelah sungai Ouse. Di bawah jembatan di pinggir sungai, ada kafe yang nampaknya baru buka. Seorang pria yang baru membersihkan meja-meja kafe menyapa dua perempuan yang melintas, “morning darling…” Sapaan yang dibalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Saya teringat ketika beberapa kali dipanggil dengan “darling” atau “love” oleh orang-orang asing yang saya temui di jalan dan kasir supermarket.

Tidak jauh dari situ ada Clifford Tower atau kastil York. Kastil ini tidak terlalu besar, terletak di atas gundukan tanah yang tinggi. Jika naik ke atas kastil ini, kita bisa melihat beberapa bagian kota York, termasuk York Minster yang terkenal itu. Di depan kastil ini ada sebuah plang yang isinya kisah mengenaskan dari tahun 1190. Kisah gelap dalam buku sejarah York. Masa itu adalah masa ketika sentimen anti-semitisme menjalar ke seluruh Eropa. Di mana-mana protes anti-Yahudi berujung pada kerusuhan.

Di York, total ada 150 orang komunitas Yahudi. Mereka berlindung di Clifford Tower yang dikepung dari berbagai sisi. Pilihan yang dimiliki tidak banyak, bunuh diri atau menggadaikan keyakinan mereka dengan berpindah keyakinan. Sebagian memilih bunuh diri, dan sisanya mati karena terbakar di dalam kastil. Sejarah resmi York, sebagaimana tertulis dalam artikel di situsweb kota ini, menyebut malam 16 Maret 1190 tersebut sebagai “kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok relijius intoleran”.

Dari kisah mengenaskan Clifford Tower, saya melanjutkan perjalanan menelusuri gerbang selanjutnya. Oh iya, sebelum melanjutkan perjalanan, saya berjumpa orang baik di toilet umum. Untuk masuk toilet umum di dekat Cliffor Tower, kita harus membayar 40p, lebih mahal dibanding di stasiun Victoria London (30p) atau di terminal bis Leeds (20p).

Saya merogoh saku celana mencari koin, tidak ketemu. Sepertinya kasihan karena melihat saya kebingungan, seorang pria tua yang akan keluar dari pintu toilet berkata ke saya, “come on in, mate!” Ketika pintu otomatis terbuka dia teriak “Quick! Quick!” Saya kemudian masuk dan mengucapkan terima kasih. Sekitar delapan menit berjalan kaki dari Clifford Tower, saya sampai di gerbang kecil kedua: Fishergate Bar. Ukurannya sedikit lebih kecil dari Victoria Bar.

Dari sana saya melanjutkan ke gerbang utama yang terletak di sebelah Timur: Walmgate Bar. Gerbang utama ini pernah hancur ketika perang sipil antara kaum parlementaria dan royalis terjadi di Inggris di abad 16, 40 tahun setelah kematian Ratu Elizabeth 1. Dari penampakan fisik, gerbang ini lebih luas namun kalah tinggi dibanding Micklegate Bar. Ada bagian gerbang yang menjorok ke luar ke jalanan, biasa disebut barbican.

Saya hanya sebentar di gerbang ini dan melanjutkan perjalanan ke gerbang selanjutnya: Monk Bar. Jarak antara Walmgate dan Monk lebih jauh dibanding jarak antargerbang sebelumnya. Saya butuh waktu sekitar 15 menit menyusuri trotoar yang licin dengan daun-daun yang sudah membusuk. Saya melewati York St. John University, hotel Double Tree, supermarket Morrisons, dan sungai Foss. Air di sungai ini coklat kotor, sepertinya efek hujan dan salju dua hari sebelumnya. Saya melihat dua angsa putih menghabiskan akhir pekannya di sungai ini.

Monk Bar adalah gerbang yang punya tower paling tinggi dibanding empat gerbang utama. Di gerbang ini saya coba naik ke tower yang pintunya dibuka. Sampai di atas ternyata sama saja pintu ke arah tembok tetap ditutup. Salah satu bagian tower ini sendiri sekarang dikelola jadi objek wisata oleh JORVIK Group yang menyediakan paket wisata menyusuri jejak-jejak Viking di York. Saya turun lagi dan mencari gerbang terakhir: Bootham Bar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Monk Bar, mungkin sekitar 5 menit berjalan kaki. Di antara dua gerbang ini, saya setidaknya melihat 4 tempat cukur.

Bootham Bar adalah gerbang utama di sebelah barat. Gerbang yang paling tua dibanding empat gerbang lainnya. Sudah digunakan lebih dari 2000 tahun, pasukan romawi melewati gerbang ini untuk mencapai Skotlandia. Letak Bootham Bar persis di seberang York Art Gallery. Dari halaman York Art Gallery, kita bisa melihat gerbang ini yang di belakangnya dibayang-bayangi bangunan York Minster, salah satu katedral terbesar di Inggris.

Masuk melalui gerbang ini, York Minster sudah kelihatan di depan. Jaraknya mungkin sekitar 100 meter. Sebelum sampai York Minster, ada dua toko buku bekas di sebelah kanan jalan dari gerbang, toko buku Grimoire dan the Little Apple. Sayang Grimoire tutup jadi saya hanya sempat masuk ke the Litte Apple. Lurus melewati York Minster, ada patung Constantine, penguasa Romawi di York.

Di sebelah kanan, berseberangan dengan patung, ada jalan kecil, jalan Minster Gate. Di situ saya berhenti di toko buku Minster Gate. Seorang kawan merekomendasikan toko buku ini, toko buku independen yang menjual buku-buku berkualitas dengan harga murah. Toko buku ini sendiri terdiri dari empat lantai. Di basement, ada buku-buku George Orwell dan novel. Buku Down and Out in Paris and London dijual seharga 2.99 pounds.

Saya menghabiskan waktu kurang lebih 40 menit di toko buku ini, membaca buku tentang sejarah York, judulnya Essays in York History yang diedit oleh A.J. Peacock. Salah satu bagian dalam buku itu adalah kisah Charles Dickens ketika berada di York di tahun 1858. Ia membacakan novelnya A Christmas Carol.

Di dekat saya ada tiga orang ibu-ibu sedang bercakap tentang buku sejarah yang mereka baca. “Duh, kok baru tahu ada buku ini. Ke mana saja aku ini. Tapi kayaknya sudah terlalu telat umurku kalau baca buku ini sekarang. Kayaknya gak usah kubeli deh”. Temannya bilang kalau berminat ya beli saja, tidak ada kata telat buat baca buku. Akhirnya buku itu diambil, judulnya The Field of Cloth of Gold Glenn Richardson.

Beberapa saat kemudian saya keluar dari toko buku. York semakin dingin. Saya mengeluarkan kaos tangan dan memakainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>