Tentang Lari

20190811_165749

Pain is inevitable, suffering is optional. Kalau ada kalimat yang mampu menjelaskan pelajaran dari lari, saya kira kata-kata Haruki Murakami tersebut adalah yang paling ideal. Iya, lari, olahraga. Bukan lari dari kenyataan sebagaimana guyonan yang sudah menjadi klise, garing, dan entah kenapa masih saja banyak orang menggunakannya.

Sambil bercerita tentang aktivitas lari yang ia lakukan sejak tinggal di Massachusetts, Murakami menyisipkan banyak petuah tentang kehidupan – abstraksi atas pengalaman hariannya – di buku What I Talk About When I Talk About Running. Ia lari satu jam sehari, enam kali seminggu dan selalu menyempatkan untuk lari ketika berkunjung ke berbagai kota di berbagai negara. Termasuk meluangkan waktu ke Yunani, ke kota Marathon, tempat lari maraton lahir.

Saya tidak ingin banyak cerita tentang isi buku Murakami tersebut, dengan sekali mengetik di Google, ia bisa diunduh dan diselesaikan dengan sekali duduk karena tipis.

Saya mengingat kembali buku tersebut dan mulai memahami apa yang dibilang Murakami setelah beberapa hari ini mencoba lari. Dalam lari, rasa sakit tidak terhindarkan, tapi menderita karena rasa sakit adalah pilihan. Karena itu, lari adalah miniatur kehidupan, dan pengalaman berlari adalah pelajaran tentang hidup.

Pengalaman berlari saya sebenarnya tidak banyak. Itu kalau yang dimaksud adalah lari secara khusus dengan meluangkan waktu sendiri. Saya lebih banyak melakukannya di lapangan futsal, khususnya ketika di Jakarta sejak tahun 2014 saya bergabung dengan komunitas futsal yang mengadakan kompetisi mingguan.

Di lapangan futsal, lari adalah sebuah strategi. Tidak perlu banyak berlari untuk bisa mencetak gol atau bertahan. Namun, butuh kesadaran dan kepekaan menggerakkan kaki kapan berlari atau tidak. Banyak berlari bisa membantu tim sendiri, namun kadang-kadang justru bisa menguntungkan tim lawan. Umpan enak yang diberikan oleh teman akan jadi sia-sia jika kita gagal berlari untuk menerima bola tepat waktu. Sebaliknya, kalau sudah terlanjur di depan gawang lawan dan kena serangan balik, telat lari akan membuat gawang kita rentan dijebol.

Lari sendirian ternyata berbeda dengan lari di lapangan futsal. Berbeda dengan dalam futsal, lari bukan lagi strategi. Ia justru hal utama itu sendiri. Dan karena itu problemnya tidak terletak pada kesadaran berstrategi, melainkan sejauh apa kita mampu memaksa diri untuk terus berlari dalam jarak dan waktu yang kita tentukan sendiri. Ini kalau lari harian biasa ya, bukan misalnya ikut lomba lari 10K atau semacamnya.

Terlihat mudah, tapi di menit ke 15 atau bahkan menit ke 5 dari titik kita memulai lari, rasa sakit itu sudah akan keluar. Lari akan menunjukkan sejauh apa kita menjalani hidup. Jarang melakukan olahraga dan terlalu banyak duduk, maka saya jamin dua paha dan juga betis akan terasa nyeri di beberapa menit awal. Kepala juga dengan mudah berkunang-kunang. Pain is inevitable. Dan dalam kondisi semacam itu, selalu muncul godaan untuk mengakhirinya cepat-cepat betapapun kita sudah memiliki niat. Suffering is optional.

Itu dilema atau pikiran-pikiran yang muncul ketika kita sedang berlari. Belum setelah selesai lari di mana efek terhadap badan akan lebih terasa. Badan yang njarem, kaki yang pegel, dan seterusnya. Banyak alasan untuk menghentikan lari, atau setidaknya menunda-nunda jika besok-besok ingin lari lagi.

Beberapa hari ini, saya memilih lari di pagi hari. Bukan karena itu waktu yang paling ideal dengan udara yang masih segar dan seterusnya. Lebih karena pagi adalah waktu yang paling mungkin saya gunakan untuk aktivitas di luar ruangan. Kalau sore, saya menduga komitmen untuk lari tidak akan sebesar kalau di pagi hari. Akan semakin banyak alasan yang bisa muncul untuk menghambat diri sendiri.

Dan beruntungnya saya tinggal di kawasan pinggiran kota yang masih banyak sawah dan pemandangan yang menyegarkan pikiran. Ke arah utara, kalau cuaca cerah, juga masih bisa melihat Merapi. Ini membantu saya untuk meyakinkan diri bahwa lari akan lebih menyehatkan, atau setidaknya bisa melihat hal-hal baru yang tidak mungkin saya lihat ketika saya naik motor.

Beberapa hari ini misalnya, di jalan-jalan yang sebenarnya sering saya lewati beberapa tahun belakangan, saya menemukan banyak hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Ada lapangan bola kecil di pinggir jalan, seukuran lapangan badminton. Kalau dari ukurannya memang ini untuk anak-anak dan ada papan pengumuman bahwa ini lapangan milik SD di dekat situ.

Lari beberapa hari belakangan juga memaksa saya untuk berinteraksi, atau setidaknya menyaksikan orang-orang di kampung berinteraksi. Ada ibu yang membawa sabit dan dalam perjalanan ke sawah. Ibu-ibu yang sedang membahas buku dan seragam sekolah baru untuk anak-anaknya. Juga obrolan dua orang nenek yang sekilas saya curi dengar.

Dalam beberapa detik, perjumpaan-perjumpaan itu bikin saya senyum. Beberapa detik selanjutnya, pertarungan kembali lagi muncul di pikiran. Apakah saya akan melanjutkan berlari, atau jalan kaki saja. Seberapa beda efek ke kesehatan badan antara berlari dan berjalan kaki. Dan sederet pertanyaan lainnya. Saya biasanya memilih untuk berjalan kaki lebih dulu beberapa (puluh) meter sebelum berlari. Begitu seterusnya.

Selain itu, juga memberikan batas-batas sendiri. Misalnya, saya akan berlari sampai sejauh batas yang bisa saya lihat, atau saya maklumi sendiri. “Oke, kita lari sampai jembatan itu, pohon itu, gedung itu, pagar itu, dan seterusnya…”

Di hari-hari awal, pemakluman tentang keterbatasan diri masih cukup tinggi. Kadang-kadang, rasa malas saya berbisik: sudah lah jalan kaki saja, toh lari terus juga tidak akan secara instan memberikan efek ke badan. Toh selama di Inggris saya lebih banyak jalan kaki, dan menyehatkan juga. Jadi ya sudah saya ikuti. Mungkin di hari-hari selanjutnya kaki saya akan lebih ringan untuk diajak berlari lebih lama. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>