Tentang Menulis

Hampir dua bulan bekerja dari rumah ini benar-benar mengajarkan banyak hal untuk diri sendiri. Dari beradaptasi dengan berbagai normal baru, menjaga kesehatan fisik dan mental, sampai mengingat berbagai hal yang layak dikenang, atau bahkan yang tidak layak dikenang.

Di media sosial, saya melihat hal yang terakhir ini juga menjadi pengalaman kolektif banyak orang. Setidaknya di Twitter dan Instagram, banyak orang yang berbagai foto-foto lawas mereka. Banyak orang yang terganggu terutama yang tantangan-tantangan buat posting foto selfie. Lama-lama hal itu memang jadi membosankan. Tapi setiap orang punya cara masing-masing untuk menjaga kewarasan di masa pagebluk ini.

Saya sendiri, selain ikut arus posting foto-foto, juga mengenang banyak hal. Salah satunya mengenai tulis-menulis. Di waktu sebelum pandemi, tulis-menulis ini jarang saya pikirkan karena memang setiap hari ia sudah menjadi pekerjaan sekaligus hobby. Dan baru belakangan saya menyadari betapa banyaknya energi yang saya curahkan untuk tulis-menulis ini.

Seingat saya, saya mulai tertarik dengan aktivitas tulis-menulis ini sewaktu SD. Saya ingat sering menulis di buku diary, tidak setiap hari tetapi rutin. Sayangnya, bukunya sudah hilang entah di mana. Saat itu, sebagaimana sebagian besar anak-anak seusia, saya suka membaca majalah Bobo. Mungkin itu yang membentuk minat awal saya menulis. Selain itu, sejak Piala Dunia 1998, saya juga berlangganan Tabloid Bola yang terbit setiap Selasa dan Kamis.

Baru ketika SMP, aktivitas menulis itu menjadi lebih serius. Saya pertama kali menulis di media kelas 2 SMP. Media yang memuatnya tentu saja Tabloid Bola. Saya menulis tentang konflik suporter Pelita Solo dan PSIS Semarang saat itu. Setelah itu, masih di tabloid yang sama saya menulis tentang Halil Altintop, pemain Turki yang saat itu bermain di Liga Jerman dan sedang bagus-bagusnya.

Saat itu, belum ada komputer di rumah, mesin tik juga tidak ada. Lalu karena tulisan tangan saya jelek, mula-mula saya menulis terlebih dulu artikelnya dan meminta bapak untuk menyalin ulang. Lantas mengirimkannya melalui pos. Rasanya senang sekali begitu artikel tersebut dimuat. Apalagi saya dapat hadiah jaket berlogo si gundul khas Tabloid Bola. Sengaja saya alamatkan di sekolah agar teman-teman bisa tahu saya menulis.

Sayangnya, kesadaran saya mengarsip belum tumbuh saat itu. Jadi ya dua artikel pertama saya nasibnya entah di mana. Mau nyari edisi lawas pun hampir tidak mungkin karena Tabloid Bola sudah bubar, saya lupa edisinya, dan itu sudah belasan tahun yang lalu.

Sejak saat itu saya tidak menulis lagi. Lebih banyak membaca koran dan buku. Praktis baru menulis lagi ketika kuliah dan bergabung dengan pers mahasiswa Balairung UGM. Namanya di organisasi yang terkait dengan dunia tulis-menulis, rasanya malu sekali kalau tidak bisa menulis. Menulis saja pun belum cukup, harus punya skill menulis bagus. Dan itu yang saya latih selama di Balairung.

Kelak saya menyadari bahwa masa-masa formatif saya menulis adalah di Balairung. Di sini saya benar-benar belajar menulis dan menyunting sebuah tulisan. Sementara masa SMP tadi lebih merupakan perkenalan awal saya dengan tulisan, masa kuliah adalah masa di mana saya mulai berpikir bahwa saya akan hidup dari tulis-menulis. Dan karena itu saya memaksa diri untuk terus menulis. Salah satu caranya, mengirim tulisan ke media.

Persaingannya tentu dengan anak-anak Balairung dan pers mahasiswa lain. Saat itu rubrik resensi buku di koran-koran yang relatif disasar orang-orang ini, termasuk saya. Mengapa resensi buku? Ada banyak alasan. Salah satunya karena relatif lebih mudah untuk mengirimkan artikel resensi buku ketimbang opini yang saingannya lebih ketat. Atau kalaupun menulis opini, biasanya ada di rubrik opini yang khusus untuk mahasiswa. Kompas, Sindo, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dulu punya rubrik opini khusus untuk mahasiswa dan kami berlomba mengirimkan artikel ke sana.

Meresensi buku juga memaksa kita untuk membaca. Bahkan kalau resensi yang kita tulis demikian jelek dan tidak diterima oleh media, setidaknya kita tetap mendapatkan pengetahuan karena sudah membaca bukunya. Lain hal, kalau sudah beberapa kali artikel resensi buku kita dimuat, kita bisa mengirimkannya ke penerbit buku yang bersangkutan dan meminta bonus buku baru. Begitu seterusnya, menulis resensi buku adalah sebuah win-win solution.

Dari “kompetisi” situ, sikap mental saya dalam menulis terbentuk. Saya menulis kompetisi dalam tanda kutip karena memang tidak berupa kompetisi yang terbuka dengan teman-teman sendiri. Ia lebih dibentuk oleh atmosfer para penulis. Bayangkan, selain menulis dan mengirimkan artikel ke media, kami juga sering mengirimkan artikel untuk mengikuti lomba ini-itu yang tujuannya tentu untuk mendapatkan tambahan uang.

Selain itu, kami terbiasa mengkritik tulisan satu sama lain. Ini yang saya ingat membantu saya berhati-hati dalam mengutip tulisan orang lain. Salah-salah bisa melakukan plagiasi, perbuatan paling tercela yang bisa dilakukan seorang penulis. Saya ingat pernah dikritik dengan telak oleh salah seorang senior yang menyebut tulisan saya mirip sekali dengan tulisan orang lain.

Begitu seterusnya, tradisi kritik-otokritik yang sangat berharga dalam membentuk karakter tulisan saya. Dan ia menjadi modal yang sangat penting bagi saya bertahun-tahun setelah itu. Meski tidak jauh-jauh dari aktivitas menulis, saya juga menyunting dan menerjemahkan buku. Dan cara kerjanya tentu sama saja. Aktivitas-aktivitas tersebut yang menjadi pekerjaan saya sampai saat ini. Itu kenapa di depan saya mula-mula menyebut menulis sebagai hobby. Lalu sekarang bertambah menjadi pekerjaan.

Tentu saja, meski sudah lebih dari sepuluh tahun menulis, saya kerap masih merasa tidak pede dengan tulisan saya sendiri. Terutama di hadapan mereka yang belajar kebahasaan dengan lebih detail. Tapi setidaknya ia membantu saya untuk belajar terus-menerus memperbaiki kualitas tulisan saya sendiri. Dan bagi yang ingin menulis, apalagi menjadikan menulis sebagai pekerjaan masa depan, tidak ada cara lain selain terus belajar, terus membaca dan menulis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>