Tentang Sepakbola

Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia. Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton.

Kenapa Inter Milan atau Manchester United? Tentu saja karena keduanya adalah tim favorit saya. Ingatan-ingatan awal saya menonton sepakbola di televisi adalah ketika menyaksikan pertandingan Serie A tahun 1998: Inter Milan vs Juventus. Salah satu laga yang kerap disebut-sebut menunjukkan calciopoli ketika wasit menguntungkan Juventus. Karena melihat Inter dicurangi dan Juventus diuntungkan, saat itu saya langsung memutuskan mendukung Inter dan sekaligus membenci Juventus.

Ingatan tentang Liga Inggris sedikit lebih positif. Di tahun 1998 Arsenal yang menjadi juara liga, saya masih ingat headline Tabloid Bola yang menampilkan Nicolas Anelka. MU gagal juara tapi sering diulas di Bola. Mungkin itu yang membuat saya jatuh cinta dengan MU dan saat itu terutama mengidolakan David Beckham. Setahun berikutnya, MU memperoleh treble winner.

Oh iya, kembali ke lamunan di masa kecil. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup.

Saya merasa sudah bekerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. Setiap sore selepas ashar sampai magrib saya selalu bermain bola di lapangan dekat rumah. Kalau sedang tidak ada yang bermain, saya berlatih sendirian di halaman depan rumah yang hanya seluas lapangan badminton. Oh iya, bolanya bola plastik. Saya merasa sering mencetak gol dengan tendangan pisang ala David Beckham. Kadang-kadang juga menendang bola dengan kaki kiri. Tentang kaki kiri ini saya teringat Davor Suker yang saat itu menjadi top skorer di Piala Dunia 1998.

Kalau cuaca tidak memungkinkan saya bermain sendirian di dalam rumah menggunakan bola kasti. Bola saya pantulkan ke tembok dan lalu saya sundul atau membayangkan tendangan voli. Kadang-kadang juga saya berposisi sebagai kiper dengan menangkap pantulan bola dari tembok. Masa-masa yang cukup menyenangkan.

Oh iya. Ketika bermain dan mencetak gol, saya suka menirukan gaya Vincenzo Montella, gaya pesawat terbang dengan merentangkan kedua tangan. Entah kenapa rasanya lepas betul setelah mencetak gol dan bisa merentangkan kedua tangan sambil berlari. Sampai sekarang saya masih suka menggunakan gaya itu setiap bikin gol ketika bermain futsal.

Kelas 5 SD saya sempat bergabung dengan sekolah sepakbola di Salatiga, agak jauh dari rumah. Karena Bapak yang setiap sore mengantar kecapekan, saya disuruh berhenti setelah dua minggu berlatih. Sedih. Setidaknya sudah bisa melihat Bambang Pamungkas sebelum ia bergabung dengan klub di Belanda. Saya pindah ke sekolah sepakbola di dekat rumah.

Di sekolah sepakbola yang saya ikuti waktu SMP, ada beberapa pengalaman menarik. Salah satunya, satu ketika kami sedang melakukan pertandingan persahabatan di kandang tim lain. Sebelum kami bertanding, yang bertanding adalah tim yang usianya lebih junior. Tim saya menang besar dan saya spontan teriak “Sudah sit wasit stop, kasian..” . Kalimat yang membuat pelatih membentak saya mengingatkan agar saya memberikan respek ke tim tuan rumah. Tentu saya hanya tertunduk malu dengan kesalahan yang baru saya lakukan.

“Puncak karier” saya bermain sepakbola ada di SMA. Ikut ekstrakurikuler sepakbola, saya termasuk rutin datang latihan di lapangan yang terletak di dekat sekolah. Lapangan yang kini sudah tidak ada lagi karena rencananya tanahnya akan dibangun kios atau pusat perbelanjaan. Di SMA saya sempat ikut lomba yang diadakan oleh Akademisi Kepolisian di Semarang. Itu acara tahunan yang buat SMA kami cukup bergengsi.

Tahun 2006, tim sepakbola SMA saya melaju sampai ke semifinal. Di beberapa pertandingan sebelumnya dan juga di semifinal, saya selalu bermain 45 menit di babak pertama. Fisik yang tidak terlalu baik membuat saya tidak sanggup bermain 2 babak. Dan di semifinal kami harus bermain sampai adu penalti. Tim saya gagal, dan saya menangis. Rasanya sesak sekali kalah adu penalti. Konon kalau kami lolos ke final, sekolah akan diliburkan agar semua siswa bisa datang memberikan supportnya kepada kami. Itu bakal jadi momen yang tak terlupakan, momen yang tidak pernah terjadi.

Dari mimpi tentang sepakbola ini saya paham bahwa kerja keras saja ternyata tidak cukup. Setiap kenaikan kelas di SD maupun SMP dan apalagi SMA saya sadar mimpi-mimpi semacam itu mulai menjauh. Ya sudah. Dalam sepakbola memang harus ada yang bermain, dan ada yang cukup menjadi penonton. Bapak bilang saya lebih cocok jadi pengamat dan penonton sepakbola. Barangkali begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>