Untuk Jung-Hwan, Sahabatku

ae

Semoga kamu sehat selalu.

Terima kasih telah mengirim surat, aku sudah membacanya. Tentu saja bersama Taek, sejak kami menikah, kami sepakat untuk terbuka satu sama lain. Apalagi ini surat yang datang darimu, sahabatku dan tentu juga Taek. Kami tersenyum usai membacanya. Dan aku memutuskan untuk segera membalasnya. Bagaimanapun tidak baik membuat sahabat baik kita menunggu. Betapapun aku yakin kamu tidak menunggu balasan suratku.

Mengenang masa lalu adalah hal yang menyenangkan. Kadang kita menyesal karena tidak melakukan ini itu, tapi sudah terlambat. Hidup sudah memiliki sayapnya sendiri yang membawa kita sampai di hari ini. Kadang juga kita bisa tersenyum karena telah berdamai dengan yang terjadi di masa lalu. Meletakkan kenangan pada tempatnya.

Dan, membaca suratmu, aku sama sekali tidak menyesal mengetahui bahwa kamu pernah menyukaiku. Atau sampai sekarang masih? Hehe…

Jung-Hwan, terima kasih sudah berkata jujur. Dan kini, melalui surat ini, saatnya aku mengatakan hal yang sama: Aku pernah menyayangimu. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai laki-laki. Iya. Kukira kamu tidak tahu perasaanku ini bukan?

Kamu pasti mengira aku jatuh cinta dan lalu patah hati berlarat karena Sun-Woo. Tapi tentu saja tidak seperti itu. Aku memang sedih karena Sun-Woo memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Bo-ra. Itu salju pertama di musim dingin 1989. Aku ingin menangis dengan kencang, tapi mengingat itu tengah malam dan semua orang sedang tidur, aku hanya menahannya. Sesak sekali.

Dari semua orang, kenapa Sun-Woo memutuskan jatuh cinta kepada Bo-ra? Tentu saja aku sayang kakakku, tapi Bo-ra orang yang aneh, keras kepala, dan ambisius. Dia sulit bikin orang tertawa, yang ada bikin orang kesal terus, kenapa Sun-Woo tidak memilihku yang jelas-jelas bisa bikin semua orang di perkampungan kita tertawa?

Kamu tahu kan, cuma aku yang merespon jokes garing ayahmu. Apaan coba “Aigooo Kim Sajang?”

Setelah Sun-Woo, kukira aku tidak terlalu lama patah hati. Kelak aku paham bahwa itu hanya perasaan-perasaan sesaat. Cinta monyet, kata banyak orang. Yang jelas, perasaanku ke kamu mulai tumbuh sejak saat itu. Sayangnya ya, saat itu kamu cenderung gengsi kan sama aku? Aku cuma paham bahwa kamu perhatian, tapi kukira itu perhatian biasa seorang sahabat?

Aku berusaha keras untuk menarik perhatianmu. Entah kamu mengingatnya dengan baik atau tidak. Aku bisa menyebutnya satu persatu tapi mungkin butuh berlembar-lembar surat dan aku kelelahan menulis. Tapi kusebut beberapa saja. Waktu makan di rumahmu, kamu ingat aku bertukar jokes dengan ayahmu? Aku terus melanjutkannya sambil melihat wajahmu tersipu malu. Sebenarnya aku bosan dengan jokes ayahmu. Garing. Tapi kalau dengan melakukan itu aku bisa melihatmu tersenyum kenapa tidak?

Lalu ketika satu masa aku pernah berusaha untuk bangun pagi agar bisa berangkat bareng kamu. Aku pernah bertanya kamu berangkat jam berapa dan kamu menjawab sekenanya berangkat agak siangan. Ketika keesokannya aku menunggu di jam-jam yang kamu sebut, ternyata kamu sudah berangkat. Rasanya kecewa sekali aku, untung masih ada Dong-ryong yang menemani berangkat.

Belajar dari situ, aku berusaha bangun pagi keesokan harinya. Dan untungnya, kamu juga sedang berangkat menuju halte bis. Wajahmu terlihat kaget melihat orang yang biasa bangun siang ini bisa berangkat pagi juga. Andai kamu tahu bahwa upayaku bangun pagi ya agar bisa berangkat bareng kamu. Waktu akhirnya aku duduk di sebelahmu, aku sengaja bilang mau tidur terlebih dulu. Saat itu, tentu saja, aku memang ngantuk. Tapi lebih dari itu, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk sekadar bersandar beberapa menit di pundakmu. Toh busnya juga belum penuh jadi tidak akan banyak orang yang tahu.

Lalu saat kita pulang nonton konser. Kamu marah-marah karena aku tidak hati-hati jadi aku terpeleset dan susah buat berjalan. Kamu tidak tahu kan bahwa saat itu aku hanya pura-pura. Iya, pura-pura kepleset biar pulangnya bisa pegangan dan merangkul pinggangmu. Melihat wajahmu dari dekat itu sungguh menenteramkan. Entah apa perasaanmu saat itu.

Lalu, saat ulang tahunmu, aku membelikanmu baju berwarna pink. Itu baju yang cocok sekali kalau kamu pakai. Sayang kamu tidak pernah memakainya. Mungkin kamu tidak suka. Aku sempat sedih waktu melihat kakakkmu mengenakan baju berwarna pink, persis seperti pemberianku. Kukira itu baju yang kuberikan buat kamu, ternyata bukan. Belakangan aku baru tahu bahwa itu baju yang dikasih Jang Mi-ok ke kakakmu.

Jujur saja, aku sering kesal dengan sikapmu. Selalu bilang wajahku jelek, tidak ada cowok yang mau denganku, tidak tahu malu, bahkan bilang aku tidak cocok buat bawa plang nama negara di pembukaan Olimpiade 1988 karena menurutmu aku bisa bikin malu satu negara. Tapi ya tidak apa-apa, aku tetap sayang kamu, saat itu. Hehe.

Terima kasih juga waktu ibuku marah-marah dan kamu berusaha melindungiku biar aku tidak kena pukul. Atau, hmm, sebenarnya kamu tidak melindungiku ya. Akunya saja yang saat itu tiba-tiba memelukmu dari belakang biar tidak kena pukulan ibu. Eh akhirnya malah kamu yang kena pukulan, maaf ya.

Jung-Hwan, semoga kamu tidak salah tangkap. Aku memutuskan membalas surat ini dan menjelaskan perasaanku saat itu bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin meletakkan kenangan-kenangan kita pada tempatnya. Dan Taek juga membaca surat ini dan menyetujuinya. Kita sudah hidup bahagia saat ini dan aku juga tidak mau persahabatan kita yang sudah berusia puluhan tahun rusak. Persahabatan kita yang sudah cukup lama itu terlalu sayang kalau dirusak oleh perasaan yang pernah singgah di hati kita masing-masing.

Kadang-kadang, dan aku percaya, seseorang yang kita anggap cocok buat jadi pasangan kita, bisa jadi justru berefek sebaliknya ketika sudah menjadi pasangan beneran. Muncul ketidakcocokan di sana-sini. Bayangan-bayangan ideal yang tidak berjumpa dengan kenyataan. Dan kalau itu yang terjadi, efeknya bisa destruktif buat kita dan orang yang kita sayang.

Pelajaran kehidupan dan interaksi dengan banyak orang mengajarkanku tentang hal itu. Aku punya banyak teman yang bersahabat sejak lama lalu memutuskan menikah. Ada yang berhasil, banyak yang gagal. Mereka yang berhasil maka persahabatannya juga semakin intim dan mendalam. Namun yang gagal, sebagian besar akan kehilangan sahabatnya itu. Refleksi ini juga yang kubincangkan dengan Taek. Dan dari obrolan-obrolan itu kami sepakat tidak mau kehilangan sahabat-sahabat yang pernah menghiasi dan menemani di masa-masa formatif kita, yang itu berarti selain aku dan Taek ada Dong-Ryong, Sun-Woo, dan tentu saja kamu.

Kukira itu saja yang kamu kuomongkan di surat ini. Aku tidak pandai menulis panjang-panjang, pasti banyak yang aku lupakan. Aku mengirim kartu pos buat radio Ssangmun-dong saja tidak terkirim karena kelupaan perangko. Untung saja kamu berbaik hati mengirimnya.

Jadi, semoga kita bisa melewati pandemi ini dengan sehat. Dan kelak, semoga ada waktu kita untuk berkumpul bersama lagi, sekadar mengingat hal-hal yang layak untuk kita kenang dengan senyum.

Deok-Sun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>