Friedrich Engels di Manchester

Sisa lima jam di Manchester sebelum kereta ke Sheffield berangkat. Googling sebentar, dan saya memutuskan untuk menyusuri jejak-jejak Engels di kota ini.

Saya memulai dengan Museum of Science and Industry. Tidak ada Engels di sini. Tapi berkunjung ke museum ini menjadi pengantar untuk memahami Manchester, kota yang menjadi jantung revolusi industri di abad 18.

Museum ini tidak hanya cerita tentang berbagai inovasi dan ilmu pengetahuan yang membentuk perkembangan kota. Ia juga memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi kelas pekerja yang sentral dalam proses industrialisasi di Manchester. Potret dan kondisi kelas pekerja Manchester ini yang menjadi salah satu pembahasan Engels di bukunya The Condition of Working Class in England (1845).

Dalam bukunya tersebut, Engels menyebut bahwa revolusi industri justru membuat kondisi kelas pekerja semakin memburuk. Kombinasi upah murah, lingkungan kerja yang tidak layak, tempat tinggal yang tidak sehat, polusi udara, dan beberapa hal lainnya membuat banyak buruh semakin rentan terhadap penyakit. Argumen penting yang kerap diabaikan ketika membahas sejarah revolusi industri.

Saya mengingat lamat-lamat pertama kali tahu revolusi industri di SMP. Itupun sebatas pengetahuan tentang penemuan alat-alat seperti mesin uap dan nama seperti James Watt yang “semakin mempermudah hidup manusia”.

Di di lantai 0 museum, ada dua galeri utama. Galeri pertama bertajuk Revolusi Manchester. Isinya perkembangan Manchester dari masa ke masa, termasuk berbagai inovasi yang muncul di kota ini. Misalnya saja rel kereta api pertama di dunia, Liverpool and Manchester railway. Ada juga cerita tentang mesin percetakan yang digunakan untuk mencetak koran.

Sejarah media The Guardian tidak bisa dilepaskan dari kota Manchester. Ia pertama kali berdiri di kota ini pada 1821 dan mula-mula bernama The Manchester Guardian. Konon, ayah Engels pernah memasang iklan di The Manchester Guardian yang isinya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan aparat keamanan yang berhasil meredakan pemogokan masal tahun 1842.. Iklan yang tentu akan akan bikin Engels marah.

Saya beruntung karena datang 45 menit setelah museum buka, persis ketika ada penjaga museum yang menjelaskan sejarah Manchester kepada pengunjung. Sebelum memulai penjelasannya, penjaga tersebut mengajak pengunjung berkumpul di tengah galeri. Setelah orang-orang – kebanyakan anak-anak dan keluarganya – duduk lesehan, ia membuka penjelasan dengan pertanyaan “apakah ada yang tahu arti revolusi?” Ada anak yang berteriak menjawab, ada yang tolah-toleh kebingungan.

Penjaga tersebut lalu melanjutkan cerita bahwa revolusi adalah perubahan. Bahwa perubahan itu tidak terjadi tiba-tiba melainkan secara pelan-pelan dan panjang prosesnya dan itu yang membentuk Manchester hari ini. Dengan ekspresif ia cerita bahwa dulu Manchester isinya adalah pohon-pohon hijau, lalu pelan-pelan berdiri pabrik-pabrik dan membuat kota ini menjadi kota industri. Pengantar yang bagus buat anak-anak.

Galeri kedua adalah galeri tekstil. Di galeri tekstil kita diajak untuk melihat sejarah panjang Manchester dengan kapas yang membuat kota ini sempat dijuluki “cottonopolis”. Di tengah galeri tekstil ada instalasi miniatur mesin-mesin pemintal kapas yang dulu digunakan oleh buruh-buruh pabrik. Tidak hanya penjelasan tentang bagaimana mesin-mesin ini bekerja, galeri ini juga menunjukkan relasi pabrik-pabrik pemintal kapas di Manchester dengan perbudakan di Amerika Serikat terhadap orang-orang kulit hitam. Di ujung galeri, ada serpihan-serpihan barang yang dimiliki oleh buruh pabrik pemintal kapas.

Usai menghabiskan sekitar tiga puluh menit di dalam museum, saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan ke persimpangan King Street dan Southgate Street. Di lokasi yang sekarang berdiri gedung House of Fraser, dulu adalah salah satu tempat Engels berkantor selama di Manchester. Di bukunya, Engels menceritakan bahwa ia – yang sebenarnya dikirim ke Manchester oleh ayahnya agar bibit radikalismenya menguap – menjalankan kerja-kerja kantoran termasuk makan malam dengan pengusaha-pengusaha, namun setelah jam kerja ia akan menghabiskan banyak waktu bergaul dengan buruh-buruh di kota ini. Ia menulis: I devoted my leisure-hours almost exclusively to intercourse with plain working men.  

Pergaulan ini terlihat dari detailnya Engels menggambarkan lokasi-lokasi kumuh di Manchester dan penyakit demi penyakit yang dialami oleh para pekerja. Salah satu lokasi paling kumuh yang ia sebutkan adalah di daerah Little Ireland, tempat tinggal ribuan imigran orang Irlandia, yang terletak di bagian selatan stasiun kereta Oxford Road. Engels dalam bukunya mendeskripsikan kawasan ini sebagai salah kawasan slump terburuk di Manchester.

Ia mendeskripsikan kawasan tersebut penuh “rumah-rumah tua, kotor, kecil, jalanan yang tidak rata penuh lubang tanpa trotoar, dan sebagian tanpa saluran pembuangan. Penuh tumpukan sampah, kotoran yang menjijikan tergeletak di antara genangan air di sana-sini, udara tercermar bau busuk dan asap hitam dari cerobong pabrik yang tinggi”. “Singkatnya,” kata Engels, “kawasan kumuh ini menyuguhkan pemandangan yang begitu menjijikkan dan memuakkan.”

Little Ireland sudah lama tidak ada. Kini di sepanjang kawasan ini berdiri kos-kosan mahasiswa. Penanda kecil bahwa di sini merupakan kawasan tempat tinggal imigran Irlandia adalah plang merah yang menempel di salah satu tembok yang terletak di bangunan ujung dekat jembatan stasiun Oxford Road. Saya sempat kebingungan mencari-cari plang ini. Beberapa gambar di Google yang saya temukan cukup membantu untuk mengidentifikasi lokasinya.

Salah satu tujuan utama dalam setiap walking tour tentu mendatangi salah satu landmark, seperti patung, jika ada. Itu juga yang saya lakukan. Yang aneh sebenarnya adalah fakta bahwa di Manchester sama sekali tidak ada patung Engels, salah satu pemikir yang mempengaruhi Manchester dan sejarah di abad 19 dan 20. Baru di 2017 ada patung Engels. Lokasinya di tengah-tengah HOME, kompleks pusat kesenian, bioskop, dan gedung teater.

Cerita keberadaan patung ini sendiri cukup menarik. Patung Engels ini pada mulanya dibuat oleh Uni Soviet dan diletakkan di desa Mala Pereschepyna di Ukraina. Di tahun 2015, Ukraina mensahkan undang-undang untuk menghilangkan jejak-jejak Uni Soviet di negara tersebut yang salah satunya termasuk patung Engels. Phil Colins (yang bukan penyanyi), seniman Inggris, menemukan patung Engels yang sudah diabaikan dan setelah serangkaian negosiasi, ia berhasil memperbaiki dan membawa patung tersebut ke Manchester. Lokasi patung yang ada di tengah keramaian juga memungkinkan orang-orang yang duduk santai atau makan-makan di restoran bisa melihatnya dengan jelas. Meski kalau melihat impresi sekilas, sepertinya orang-orang yang lalu lalang tidak terlalu peduli itu patung siapa.

Karena keterbatasan waktu, masih banyak jejak Engels yang belum sempat saya jelajahi. Misalnya saja ke Chetam’s Library ke ruangan di mana Karl Marx dan Engels berdiskusi dan merumuskan The Communist Manifesto (1848). Namun hari Sabtu perpustakaan tutup. Ada juga bekas salah satu rumah yang ditinggali Engels. Ada plang berwarna biru di dinding yang sekarang jadi bangunan akomodasi mahasiswa University of Manchester. Namun saya juga tidak sempat ke sana.

Salah satu yang mungkin agak ironis tentang jejak Engels di Manchester ini adalah ketika apartemen super mewah Deansgate Square, menamai salah satu gedungnya dengan nama Friederich Engels. Warga Manchester menyebut ini adalah upaya orang-orang kaya untuk mengkapitalisasi sejarah radikal Manchester dan Engels untuk profit semata. Entah apa yang akan dipikirkan Engels. []


Comments

Leave a comment