Selamat jalan, Billy… 

Bukan manusia yang mengadopsi kucing, kucing yang mengadopsi manusia. 

Kalimat semacam itu biasa diungkapkan para pecinta kucing. Saya mengamininya. Di satu hari di tahun 2008 (atau 2009, lupa) seekor kucing berwarna putih dengan belang hitam di tubuhnya datang ke rumah. Ia meminta makan. Kami memberinya makan di halaman depan. Setelah kenyang, ia pergi. Lalu esoknya datang lagi. Begitu seterusnya. Dan setelah beberapa hari, ia memutuskan tinggal di rumah. 

Kami tidak memberinya nama. Sebagaimana kami tidak pernah memberi nama kepada kucing-kucing yang pernah dirawat di rumah sebelumnya. Jadi hanya memanggilnya “pusss…”. Ia kucing yang sopan dan ramah. Ia menunggu makanan. Ia tidur di sekitar dapur. Sesekali menemani bapak ibu ketika sholat. Satu-dua bulan kemudian ia hamil dan melahirkan anak yang warna bulunya hampir identik: putih dengan belang hitam di kepala dan ekor. Kami menamainya: Billy. 

Beberapa hari setelah melahirkan, ibu Billy pergi. Ia tidak pernah kembali lagi ke rumah. Ia meninggalkan Billy untuk kami rawat. Dan setelah itu, belasan tahun kemudian adalah cerita tentang kucing yang setia dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kami. 

Billy kecil adalah kucing yang nakal. Nakal sebagaimana lazimnya kucing (bukan, misalnya, seperti Pororo yang pendiam). Mukanya, muka bego. Apalagi kalau tidur. Rasanya pengen gangguin dan memastikan tidurnya enggak nyenyak. Billy lari ke sana ke mari. Ia pipis sembarangan. Tapi pelan-pelan, ia mulai belajar. Kami bergantian memandikannya. Kadang menggunakan sabun, kadang menggunakan shampo. Kadang dengan air dingin, lebih sering dengan air hangat. Billy kecil memberontak, tapi tangan-tangan kami masih lebih kuat memegangnya. Kelak, mungkin setelah usianya di atas 10 tahun, kami berhenti memandikannya. Ia terlalu kuat. Kami lalu membersihkannya dengan tisu khusus kucing. 

Billy melengkapi keluarga kami. Ia setia menemani bapak ibu di rumah pada periode ketika anak-anaknya kuliah dan kerja di luar kota. Ia menemani bapak ibu di warung. Perilakunya bikin gemas. Ia adalah tipe kucing kampung outdoor yang membuatnya bebas keluar masuk rumah. Ia bisa berhari-hari tidak pulang. Ketika kami mengira ia hilang, ia tiba-tiba pulang dengan badan luka-luka atau bulu yang putih bersih berubah jadi coklat. Lalu biasanya ibu akan marah-marah sambil menyiapkan makanan buat Billy. 

Pada mulanya kami memberi makan Billy apa saja yang ada di rumah. Kadang ayam goreng, kadang telur, kadang tempe, kalau sedang iseng kami kasih kerupuk dan kadang roti, menyesuaikan apa yang sedang kami makan. Billy memakannya. Lalu satu ketika ibu beli ikan pindang di tukang sayur langganan. Billy suka dan makan lahap. Setelah itu setiap pagi ketika tukang sayur lewat, pindang adalah salah satu yang tidak lupa kami tanyakan. 

Semua ruangan di rumah adalah tempat tidurnya. Kadang di kamarku. Kadang di kamar bapak ibu. Kadang di dapur. Dst… Ada satu cerita lucu ketika Billy tidur di kamar bapak ibu. Ia biasa bangun jam 4 atau 5 sekalian membangunkan bapak ibu sholat subuh. Satu hari, bapak ibu telat bangun. Billy gelisah. Kamar masih terkunci. Ia naik ke meja, lalu kencing. Itu pertama dan satu-satunya momen Billy kencing di atas meja. 

Ia suka sekali menemani aktivitas kami. Kadang menunggui ketika bapak kerja di belakang rumah. Kadang ikut ibu sholat atau di dapur ketika masak. Kadang suka ikut aku nonton Netflix. Tengah malam, ia tiba-tiba bisa nemplok di muka dan mengganggu tidur orang. Ia ada di setiap momen penting di keluarga. Termasuk ketika aku lulus S1, S2, dan memulai S3. Terakhir kali aku melihat Billy persis sebelum berangkat ke Sheffield, setahun lalu. 

Momen kami merawat Billy awalnya adalah periode ketika tingkat literasi kami tentang kucing masih rendah. Kami tidak membawa Billy buat divaksin dan disteril ke dokter hewan (dokter hewan belum ada di daerah kami saat itu, butuh ke kota). Ketika kami membawa Billy ke dokter bertahun-tahun kemudian, dokter bilang sudah tidak perlu disteril. Jadi sampai meninggal, Billy tidak divaksin dan disteril. 

Satu waktu, Billy pernah sakit agak keras. Mungkin waktu usianya 3 atau 4 tahun. Bapak kebingungan. Ia lalu membawanya ke dokter umum terdekat. Sampai di rumah, Bapak memberi Billy paracetamol. Ajaibnya, Billy sembuh. Itu pengalaman yang absurd karena pengetahuan kami yang minim tentang kucing.

Minimnya literasi ini juga yang bikin kami kehilangan kucing. Tahun 2016, ada tetangga yang memberikan kucing. Kami menamainya Popo. Tanpa ada perkenalan dan proses adaptasi, kami langsung melepasnya di rumah. Kami kira semua kucing sama dan mereka akan baik-baik saja. 

Awalnya memang baik-baik saja. Billy dan Popo tidur bareng, mereka akrab. Tapi beberapa waktu kemudian, mereka mulai berantem. Lalu Popo menghilang. Enggak pernah balik lagi. Momen yang bikin aku belajar banyak tentang kucing. Billy biasa-biasa saja. Kehidupan berputar normal buat dia. 

Karena tidak disteril, ia kawin dengan kucing-kucing di lingkungan rumah. Tetangga-tetangga kami sering bilang kalau kucing mereka dikawini Billy. Bener-bener preman kampung. Tetangga kami mengenal Billy. Ia satu-satunya kucing putih di sekitar rumah. Ia sering ikut bapak jaga di pos ronda, dan ikut pulang pagi-pagi. Pernah satu ketika ada pengajian di rumah, dan Billy akan melewati orang-orang begitu saja. Ia tidak takut orang. 

Tapi namanya hidup di lingkungan yang tidak semua orang suka dengan kucing, satu waktu Billy merasakannya. Kepalanya cowel dan berdarah. Luka yang lebar. Itu jelas luka bekas lemparan benda-benda seperti batu atau kayu. Setelah itu dia di rumah berhari-hari. Saya memberinya betadine agar lukanya cepat kering. 

Ia adalah penjaga rumah. Billy pernah membunuh ular yang mau masuk ke rumah. Kalau sedang malas tidur di kamar, ia akan tidur di luar rumah. Di teras, di kursi, di meja, di warung, di mana saja. Dari kecil juga ia sering menemani bapak ibu di warung. Kadang jadi mainan anak-anak tetangga yang sedang beli di warung. 

Tahun 2020, pandemi datang. Keluarga kami juga kedatangan anggota baru, Simba. Usianya saat itu baru 6 bulan. Belajar dari Popo, kami pelan-pelan mengenalkan ke Billy bahwa ada anggota baru di rumah. Simba kami taruh di kandang, taruh di kamar, biar Billy membaui dulu. Pelan-pelan ketika sudah biasa baru Simba kami lepas. Tempat makan kami pisahkan. Kedatangan Simba ini juga yang bikin kami mulai membeli makanan kucing secara khusus. 

Billy, sejauh yang kulihat, tidak merasa terganggu. Tapi tidak terlihat senang juga. Ia lebih macam seorang tua yang “ih apaan sih” ke anak kecil yang baru datang. Simba tentu saja sedang aktif-aktifnya. Ia suka mengejar Billy, menggigit ekor Billy. Kalau sudah keterlaluan, Billy akan membalas. Lalu pergi. 

Salah satu yang mungkin mengganggu Billy adalah ia harus menghentikan kebiasaannya untuk mengakomodir Simba. Ada jendela kecil yang terletak di dapur dan terbuka. Billy selalu duduk di sana usai kekenyangan makan. Dari jendela itu ia bisa duduk berjam-jam melihat luar rumah. Karena terletak di ruang makan, kami sering nanya-nanya ke Billy dia sedang ngapain. “Lihat apa, le?” tanya Bapak. Kalau ada kucing teriak-teriak, kadang ia langsung lari mengejar mereka. Nah karena ada Simba, ia juga suka lompat ke luar rumah dari jendela itu. Ini yang berbahaya, Simba anak kecil dan bukan kucing luar rumah. Akhirnya kami memutuskan menutup jendela kecil itu. Jika jadi Billy, saya sudah pasti akan protes. 

Dua tiga tahun sebelum meninggal, kesehatan Billy menurun. Ia gampang lemas, sakit, dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Beda dengan masa muda yang membuat rumah kami terasa hanya seperti kos-kosan Billy. Pernah kami bawa ke dokter, tapi dokter juga hanya memberi vitamin. Menurutnya Billy sudah punya daya imunitas alami sebagai kucing luar rumah yang sudah bertahan lama. Kami sudah berpikir bahwa usia Billy mungkin sudah tidak akan lama lagi.

Di hari-hari terakhirnya, ia sama sekali tidak mau makan dan minum. Kami menguburnya bersama dengan kain lap yang beberapa tahun terakhir diubah jadi tempat Billy tidur. 

Meski sudah bersiap, kehilangan selalu bikin sesak. Mohon maaf tidak bisa melihatmu di hari-hari terakhir. Terima kasih dan selamat istirahat, Bil. 


Comments

Leave a comment