Ada beragam cara memahami kemiskinan. Dari buku-buku dan ruang seminar, dengan mengalaminya sejak lahir, atau seperti orang berpunya yang kemudian memiskinkan diri untuk memahaminya. George Orwell termasuk yang terakhir, seorang yang lahir dengan privilese, tetapi memilih sebentar menanggalkan kenyamanannya untuk menjadi penulis. Karier yang ia mulai dengan memahami kemiskinan dan kelaparan.
Sebelum menjadi penulis, ia bekerja sebagai polisi imperial Inggris di Myanmar. Setelah mengundurkan diri, ia pindah ke Paris dengan cita-cita menjadi penulis. Ia datang pada musim semi tahun 1928 dan tinggal di sana selama satu setengah tahun. Di Paris, ia hidup di antara orang-orang miskin, bekerja kasar, dan kelaparan. Ia mengamati kehidupan dari sisi yang paling sepi. Dari pengalaman itu lahir Down and Out in Paris and London, buku yang menandai kelahirannya sebagai “George Orwell”. Nama aslinya: Eric Arthur Blair.
Buku itu adalah kisah perjumpaan dengan kemiskinan, pengalaman hidup tanpa pekerjaan dan tanpa uang. Di Paris, uang tabungannya dicuri oleh “seorang pemuda Italia”, yang membuatnya menggadaikan baju-bajunya. Separuh kisahnya di Paris di buku itu berkisar pada perjuangan mencari kerja bersama Boris, seorang pengungsi dari Rusia. Bagi Orwell, setiap pagi bagi orang miskin adalah momen penuh kecemasan: bangun tidur berarti memikirkan di mana akan makan dan di mana akan tidur malam nanti.
Ia menulis tentang kemiskinan bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar mengalaminya, lapar, berjalan kaki berhari-hari mencari pekerjaan dari hotel ke hotel, restoran ke restoran, hanya untuk ditolak. Semua itu, dengan segala unsur melodramatisnya, menjadi bahan mentah yang sempurna untuk sebuah buku, terutama bagi seorang penulis yang lapar. Itu adalah era ketika rasa lapar dan kemiskinan mulai banyak didramatisasi dan dikisahkan.
Deskripsinya tentang rasa lapar, yang ia alami dan rasakan, cukup membuat perut terasa kosong: ia hanya makan roti kering selama beberapa hari, ia sendiri pernah tidak makan selama tiga hari. Ia menulis, kelaparan membuat seseorang kehilangan seluruh tulangnya, otaknya lenyap, dan tubuhnya menjadi seperti ubur-ubur. Melalui penderitaan yang sengaja ia masuki, Orwell belajar bahwa kemiskinan bukan soal ketiadaan uang semata, melainkan ketiadaan martabat yang dipaksakan oleh struktur sosial.
Jika membaca deskripsi Orwell tentang Paris dan orang-orang miskin di dalamnya, kita tidak akan menemukan Paris yang romantis seperti dalam A Moveable Feast karya Ernest Hemingway. Hemingway menulis tentang kehidupan penulis muda yang menulis di kafe-kafe sambil menikmati wine. Paris dalam tulisannya tetap indah dan penuh semangat bagi para penulis dan seniman muda. Bagi Orwell, Paris justru kejam dan muram, tempat di mana kelaparan menelanjangi manusia dari segala harga dirinya.
***
Parisnya Orwell itu yang aku rasakan ketika tiba di sana. Hanya sekitar tiga puluh menit setelah aku dan Andi turun di Stasiun Gare du Nord, bayangan Paris versi Orwell hidup kembali. Bau tidak enak di mana-mana. Di metro ada botol dibuang sembarangan. Air tumpah di bawah kursi. Cuaca cerah dan matahari di awal musim gugur tidak membantu apa-apa.
Di halte trem aku melihat seseorang mengambil sesuatu, sepertinya narkoba, yang disembunyikan di atap halte di Porte de Clignancourt. Ia menyerahkannya diam-diam kepada orang lain dan memastikan tidak ada orang yang melihat. Tapi aku melihat. Momen yang aneh. Di halte yang sama, beberapa orang menawarkan rokok kepada pejalan kaki.
Kami berjalan menuju hotel melewati pasar tumpah, benar-benar tumpah, karena semua barang dipajang di trotoar. Bau pesing menusuk hidung. Seorang kawan kemudian bercerita, pasar seperti itu kadang menjual barang-barang hasil curian. Makanya, yang dijual terlihat acak, tergantung apa yang berhasil “didapat”.
Tentang maling, kami memang agak takut. Seorang kenalan kami baru saja kemalingan di Metro seminggu sebelumnya. Temanku juga pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ironis memang: Paris, the city of light, the city of love, tapi juga kota di mana kamu harus sangat waspada terhadap pencopet, terutama di tempat wisata dan transportasi publik.
Sejak sebelum tiba, kami sudah bertekad berhati-hati: tidak mengeluarkan handphone dari tas, menghafal jalur metro dan trem menuju hotel. Terkesan paranoid, tapi kami benar-benar tidak mau kecolongan. Tidak enak dan sangat merepotkan kehilangan sesuatu di negara yang asing.
Hotel kami terletak di kawasan Saint-Ouen. Di bawah jembatan penyeberangan dekat situ, banyak orang berjualan barang bekas, setiap kali lewat, bau pesing menyengat. Tak jauh dari sana, deretan tenda-tenda berdiri di pinggir jalan, seperti tempat tinggal sementara. Pemandangan yang mengingatkan pada tenda-tenda liar di bawah jembatan di Jakarta. Di Reddit, beberapa orang bahkan menyebut kawasan ini sebagai salah satu wilayah paling tergentrifikasi di Paris.
***
Aku dan Andi menyusuri beberapa titik jejak Orwell seperti yang ia tulis dalam Down and Out. Tujuan pertama tentu di Rue du Pot de Fer, jalan yang dalam bukunya ia samarkan sebagai Rue du Coq d’Or.
Di bagian pertama bukunya, Orwell menulis tentang Madam Monce, pemilik hotel yang keluar hotel ke gang sambil berteriak kepada salah satu penghuni lantai tiga, “lu pikir lu nyewa seluruh hotel?!” Pemandangan sehari-hari yang bagi Orwell terasa seperti teater kecil kemiskinan perkotaan. Di kanan-kiri jalan berdiri hotel-hotel murah yang dipenuhi pendatang dari berbagai negara: Arab, Italia, Polandia.
Di kawasan inilah Orwell belajar kemiskinan. Ia menggambarkan prosesnya berlangsung pelan-pelan: ketika jumlah uang berkurang dan harus bersandar pada uang tabungan, mula-mula ia berhenti mencuci baju di laundry, yang membuatnya agak berjarak dengan pemilik laundry yang bertanya ke dia apakah ia pindah laundry ke tempat lain. Lalu mengurangi jatah rokok, yang membuat teman-temannya bertanya kenapa mulai jarang merokok.
Lalu ia juga cerita tentang rasa panik ketika tukang roti salah menyediakan pesanan. Mestinya hanya roti sebanyak 1 french, dan hanya itu uang yang ia punya, tapi penjual memberinya 1 frence 2 pence. Belum lagi ia harus menghindari teman-teman yang mengajaknya ke kafe dengan berbagai alasan. Proses ini berjalan pelan-pelan dan kemiskinan semakin nyata.
Ketika kami melintasi jalan ini, orang-orang tampak memulai hari: membeli makanan di kios, berbincang di trotoar. Mahasiswa duduk menikmati matahari. Tak jauh dari sini terdapat kampus Sorbonne dan Pantheon. Hari itu Pantheon sedang bersiap untuk acara penghormatan bagi mantan menteri kehakiman Prancis Robert Badinter yang meninggal tahun lalu. Sosok yang dikenal karena menghapus hukuman mati di Prancis, termasuk penggunaan guillotine yang baru benar-benar dihapus pada 1980-an.
Andi membeli roti di sebuah kafe di ujung jalan. Seorang pengemis mendekat, meminta uang. Kami menolak karena tidak punya receh. Ia memohon lagi dua kali, sebelum akhirnya kami bergegas pergi.
Beberapa langkah kemudian, aku melihat sebuah bangunan dengan plakat bertuliskan: “Ernest Hemingway lived in this building from 1921 to 1925.” Itu di Rue du Cardinal Lemoine. Orang-orang berlalu begitu saja, mungkin tak peduli, atau memang sudah biasa dengan sejarah yang diam di dinding-dinding kota mereka.

Dalam masa paling miskinnya, Orwell menulis tentang temannya, Boris, si pengungsi Rusia. Mereka berdua mencari pekerjaan di hotel dan restoran, tanpa hasil. Suatu malam, Boris berkata: “Mungkin kita harus siap jadi maling. Kita bisa merampok orang Amerika kaya yang gendut di pojokan gelap Montparnasse.”
Akhirnya, Orwell mendapat pekerjaan sebagai plongeur, tukang cuci piring, di sebuah hotel yang ia sebut “Hotel X” yang sekarang merupakan Hotel Lotti, tak jauh dari Place de la Concorde. Tempat ini penuh sejarah: di tengahnya berdiri obelisk hadiah dari Mesir pada abad ke-19, dan di sinilah Louis XVI, Marie Antoinette, serta Maximilien Robespierre dieksekusi saat momen Revolusi Prancis.
Selama bekerja, Orwell banyak mengalami hal yang kemudian ia tulis dengan getir dan humor. Salah satunya ketika dimarahi koki Italia, adegan khas film: si koki, dengan kumis panjang yang dipelintir, menatapnya dari bawah ke atas sambil berteriak, “Kamu dari mana, idiot? Dari Charenton, ya?” (Charenton adalah rumah sakit jiwa di Paris). Bentakan itu ia terima berkali-kali, seperti mengukuhkan posisinya di dasar hierarki sosial Paris, tempat di mana yang miskin bukan sekadar kalah, tapi juga dipermalukan.

Kami lalu menuju Rumah Sakit Cochin, salah satu rumah sakit besar di Paris dengan kapasitas sekitar delapan ratus ribu pasien. Di sini Orwell dirawat hampir dua minggu karena pneumonia, hampir setahun setelah tinggal di Paris.
Dalam esainya How the Poor Die, ia menulis pengalaman horornya di rumah sakit ini: betapa di rumah sakit publik, kematian orang miskin terasa begitu sepi, tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang peduli. Kadang, baru keesokan paginya orang tahu ada pasien yang meninggal. Berbeda sekali dengan orang yang bisa meninggal di rumah dan dikelilingi keluarganya. “Mungkin,” tulis Orwell, “penyakit hanya menyerang orang miskin.”
Membaca Down and Out adalah memahami Paris dari sudut pandang kehidupan di lapisan terbawah masyarakat. Sudut pandang yang tetap relevan dan menggema sampai hari ini.
***
Di ruang tunggu Bandara Charles de Gaulle, saya membaca tulisan besar di dinding: Paris ne vous Oubliera Pas. Paris Will Never Forget You. Paris yang mana? Yang gemerlap, penuh cinta, dan segala romantismenya. Atau Paris Orwell yang muram, lapar, miskin, dan tak tercatat di buku-buku panduan wisata.

Leave a comment