Kapsul Waktu Viking di York

Apa yang menggerakan manusia menaklukkan tempat yang jauh? Apa artinya menjadi bagian dari dunia yang berubah?

Wahana kereta gantung bergerak pelan. Ingatan sempat terlempar sepersekian detik ketika memasuki Istana Boneka di Dufan, tahun 2002 atau 2003. Awalnya lorong sempit yang gelap. Perlahan bau-bau yang susah dijelaskan mulai menyentuh hidung. Rasanya seperti gabungan bau tanah basah, kotoran-kotoran binatang, kayu yang sudah menua, bau terbakar.

Setelah bau, suara-suara bermunculan. Orang yang sedang memukul logam, menjahit kain, bekerja di pasar, juga hewan-hewan seperti babi, ayam, anjing. Sepanjang 45 menit kemudian aku dan Andi diajak melihat apa yang terjadi di abad 8 – 11 di tempat yang sama yang sedang kami kunjungi.

Ini di Jorvik Viking Centre, York. Bau dan suara-suara itu sengaja direkonstruksi untuk memberikan gambaran yang sedekat mungkin. Tempat ini semacam kapsul waktu untuk memahami potongan masa lalu.

***

Beberapa bulan sebelum ke Jorvik, aku menuntaskan beberapa series dan film tentang Vikings di Netflix. Vikings. Vikings Valhalla. The Last Kingdom. Dan Seven Kings Must Die. Itu salah satu momen ketika PhD terasa cukup melelahkan. Kelelahan yang datang dari terlalu banyak kekhawatiran, terlalu banyak pikiran tentang data yang mesti diolah, apa yang mesti dibaca, dan seterusnya. Sebagaimana lazimnya mahasiswa PhD, tentu saja semakin pikiran penuh, semakin kuat dorongan untuk prokrastinasi.

Algoritma Netflx merekomendasikan berbagai series Viking. Gas. Aku menghabiskan beberapa bulan hidup di abad 8 -11, ketika orang-orang Viking pertama kali melakukan invasi ke Inggris secara bergelombang, ketika mereka menemukan Islandia, Greenland, dan menyebar ke berbagai tempat.

Series itu diangkat dari mitologi dan tokoh-tokoh yang memang ada dalam sejarah. Tentu saja bukan rujukan ilmiah buat belajar sejarah. Tapi ia membantu memahami sejarah dengan memasukinya dari medium budaya populer. Beberapa series itu berbeda sudut pandang. Vikings dan Vikings: Valhalla adalah dua series yang meletakkan kehidupan politik Viking sebagai fokus utama.

Vikings (2013 – 2021) dimulai dengan Ragnar Lothbrok, seorang petani yang bermimpi berlayar ke barat, ke Inggris, ke tanah yang belum pernah dijamah oleh bangsanya. Ini tahun 793 yang disebut sebagai momen pertama Viking menginvasi Inggris. Ide ini sempat ditentang oleh kepala suku (?) yang sebelumnya selalu mendorong pelayaran dan invasi ke arah selatan. 5 season seri ini menceritakan penaklukan, pembunuhan, pengkhianatan, apapun yang dilakukan orang-orang Viking untuk bertahan hidup.

Ragnar adalah tokoh mitologi dalam dunia Viking. Dia disebut sebagai legenda, pahlawan, dan raja terbesar Viking. Akurasi sejarah tentang sosoknya masih diperdebatkan. Lepas dari itu, yang saya ingat ketika pertama kali menonton series ini adalah pertanyaan berikut: apa yang menggerakkan manusia untuk meninggalkan rumah dan menaklukkan tempat yang jauh?

Vikings: Valhalla (2022 – 2024) mengambil lompatan waktu seratus tahun setelah Vikings. Karakter-karakternya sama sekali baru. Yang sama mereka masih terus melanjutkan invasi ke Inggris dan sebagian bermukim dan tinggal di sana. Konflik juga muncul sesama orang Viking: antara mereka yang masih memeluk paganisme kepercayaan lama dan yang sudah memeluk Kristen. Di series ini topiknya bergerak dari apa yang menggerakan manusia menaklukkan tempat yang jauh menjadi apa artinya menjadi bagian dari dunia yang berubah, dunia baru.

Dua series ini membuka gambaran lebih mendalam tentang Viking yang dalam berbagai literatur barat kerap digambarkan sebagai bangsa yang bar-bar. Tentu saja, di series ini ada kekerasan dan darah, karena itu jangkar utama cerita. Tapi banyak cerita tentang kelembutan, tentang kasih sayang, tentang perempuan-perempuan yang mengambil keputusan di tengah dunia yang tidak memberi mereka banyak ruang.

***

The Last Kingdom (2015 – 2022) dan Seven Kings Must Die (2023), meskipun konteksnya historisnya mirip yaitu ketika gelombang invasi Viking datang di Inggris, namun sudut pandangnya berbeda. Di sini, Viking adalah ancaman yang datang dari jauh, dan Inggris adalah tanah yang sedang berjuang agar tidak hancur. Fokus utamanya adalah Uhtred of Bebbanburg, anak bangsawan Inggris yang dibesarkan oleh keluarga Viking, persis setelah keluarganya dibunuh oleh orang-orang yang sama. Cerita ini diangkat dari novel Bernard Cornwell.

Inggris saat itu terdiri dari kerajaan-kerajaan besar dan kecil (East Anglia, Mercia, Northumbria, Kent, Essex, Sussex, dan Wessex) yang kadang membenci satu sama lain, tapi memilih untuk hidup berdampingan. Di series ini, upaya untuk membayangkan Inggris yang tunggal muncul sejak raja Wessex, Alfred the Great. Mimpinya baru bisa diwujudkan oleh Æthelstan, yang disebut sebagai raja Inggris pertama setelah menaklukan kerajaan-kerajaan tersebut dan ancaman Viking.

Seven Kings Must Die, film penutup dari semesta The Last Kingdom, melompat ke masa Æthelstan. Judulnya diambil dari sebuah ramalan: tujuh raja harus mati sebelum penyatuan itu bisa terjadi. Menurutku film ini lebih politis dibanding Viking. Politis karena menekankan tidak hanya tentang penyatuan kerajaan-kerajaan di Inggris tetapi juga, di beberapa episode, ada momen yang menjelaskan upaya raja untuk menulis sejarah agar cerita tentang kerajaannya tidak hilang.

Yang menarik dari rangkaian (mereka berbeda, tidak terhubung, tapi jangkar ceritanya mirip) series ini menurutku adalah melengkapi dua cara pandang. Dari Vikings, kita mengerti mengapa seseorang mau berlayar jauh bahkan sampai membunuh orang asing. Dari The Last Kingdom, kita mengerti apa rasanya menjadi orang asing yang terancam di tanah sendiri dan krisis eksistensial yang memaksa mereka bertahan.

Rangkaian series ini juga memberikan gambaran bahwa kedatang Viking di Inggris bukanlah satu peristiwa tunggal. Mereka datang bertahap, berlapis, selama dua- tiga ratus tahun. Dalam buku The Viking Great Army and the Making of England, arkeolog Dawn M. Hadley dan Julian D. Richards berargumen bahwa pasukan Viking yang mendarat di East Anglia dan berbagai tempat di Inggris bukan sekadar mesin perang.

Mereka datang untuk bermigrasi. Karen itu dalam setiap gelombang kedatangan dan kelompok yang berbeda-beda, mereka merencanakan membangun perkampungan yang cukup untuk menampung ribuan orang, dengan pasar, pengrajin, tukang kapal, pedagang, dan anak-anak. Mereka membangun kamp yang bergerak seperti kota. Mereka juga berdagang, menetap, dan ikut membentuk lanskap Inggris ratusan tahun kemudian.

***

Kereta gantung berhenti di sebuah titik, di tengah pasar. Manekin perempuan memegang kerang di warung penjual ikan. Di sampingnya, manekin laki-laki berperut buncit penjual sayuran dan buah-buahan. Lalu ada toko daging hewan dengan berbagai jeroannya, hati, darah, daging. Di paling ujung, manekin laki-laki sedang duduk (atau jongkok?) di belakang bilik. Narasi dari audio yang terdengar di kereta, orang itu sedang buang air besar. Semua, termasuk bau dan suara-suara di awal tadi, ini direkontruksi sedekat mungkin dengan temuan arkeologis.

Jorvik Viking Centre berdiri di atas salah satu penemuan arkeologi paling penting di Inggris. Pada tahun 1970-an, ketika pemerintah York sedang membangun pusat perbelanjaan di kawasan Coppergate, para arkeolog menemukan sesuatu yang tidak terduga: pemukiman Viking yang terawetkan dengan luar biasa. Tanah lembab di York, yang kaya bahan organik, menjaga kayu, kulit, tekstil, bahkan isi perut manusia tetap utuh selama seribu tahun. Temuan arkeologis itu memberi pengetahuan baru tentang bagaimana kehidupan Viking di Inggris.

Museum ini memilih untuk menceritakan sejarah sosial. Bukan penaklukan dan bukan peta pertempuran orang-orang Viking. Yang diceritakan adalah: apa yang dimakan orang Viking di York? Bagaimana mereka berdagang? Apa penyakit yang mereka derita? Bagaimana tata letak rumah mereka? Bagaimana kondisi rumah mereka? Tentu saja, sejarah sosial ini sangat berbeda dengan cerita dalam series yang lebih menekankan pada aspek politik penaklukan.

York, atau Jorvik di era Viking, adalah kota yang pernah menjadi Viking. Selama hampir satu abad, dari 866 hingga 954, York adalah ibu kota kerajaan Viking. Orang-orang yang tinggal di sini bukan hanya penakluk dan yang ditaklukkan. Mereka bercampur, berdagang, menikah, membangun, berbaur. Museum ini menceritakan kehidupan.

Untuk mengunjungi museum ini, tiket masuk untuk mahasiswa empat belas pounds. Untuk orang dewasa, 17 pounds. Berlaku satu tahun penuh, yang artinya kita bisa kembali kapan saja. Apalagi kalau tinggal di dekat York, kurang lebih 15-20 menit naik kereta, seperti kami.

Setelah 45 menit di dalam, kami keluar dari museum ke sore York yang dingin. Coppergate sekarang adalah jalanan biasa, toko-toko, kafe, orang-orang berjaket tebal yang berjalan cepat. Tidak ada yang tampak istimewa dari permukaan ini. Apalagi buat kami yang sudah bolak-balik ke sini.

Tapi sekarang kami tahu apa yang ada di bawahnya. Itu, menurutku, adalah salah satu hal yang paling mengubah cara melihat sebuah tempat: bukan informasi besar yang mengejutkan, tapi kesadaran kecil bahwa tanah yang kita injak menyimpan lapisan-lapisan sejarah tidak terlihat.

York bukan hanya kota dengan tembok-tembok dan katedral yang megah. Di bawah lantai pusat perbelanjaan itu, di bawah jalan yang setiap hari dilalui turis dan mahasiswa, ada sisa-sisa dunia yang pernah menganggap tempat ini sebagai rumah.


Comments

Leave a comment