De Beauvoir, Sartre, dan makam yang penuh ciuman di Montparnasse

Paris pagi itu cerah dan hangat. Di dalam bus hanya ada beberapa orang. Masih sepi, mungkin karena sudah lewat jam berangkat kerja. Tujuan kami: Montparnasse, ziarah ke makam Simone de Beauvoir dan Jean-Paul Sartre

***

Cimetière du Montparnasse terletak di arondisemen keempat belas, selatan kota. Sekitar lima kilometer dari Menara Eiffel, naik bus kurang dari dua puluh menit. Kawasan ini dikenal, atau setidaknya begitu kata buku-buku wisata, sebagai kawasan yang “Paris banget” dan turis perlu ke sini kalau ingin merasakan pengalaman “Paris yang otentik”.

Aku tidak tahu apa itu Paris yang otentik. Ketika turun dari bus dan berjalan kaki menuju makam, banyak bangunan-bangunan kantor dan kafe. Secara historis, di kawasan ini Trotsky dan Lenin dulu sempat tinggal ketika eksil.

Makam Montparnasse sendiri bersembunyi di balik tembok tinggi berwarna krem yang memanjang di sepanjang Boulevard Edgar Quinet. Tidak ada yang dramatis dari eksteriornya. Kuburan yang sopan.

Masuk dari pintu utama, makam de Beauvoir dan Sartre ada persis di sebelah kanan. Kalau sebelumnya belum mencari lokasinya di Google Map, persis setelah masuk ada poster denah pemakaman. Tengok ke kanan, langsung kelihatan makam de Beauvoir dan Sartre.

Awalnya hanya kami di depan makam mereka. Sepi. Lalu dua turis melintas. Mereka hampir tidak berhenti, tapi melihat kami diam, mereka ikut berhenti. Salah satunya mengeluarkan ponsel, sepertinya googling. Mungkin mencari tahu siapa makam yang ada di depan mereka. Setelah melihat ponsel dan berbisik-bisik, mereka memutuskan mengambil foto-foto.

Di atas batu nisan itu ada banyak benda. Bunga. Kerikil. Lipstik. Ciuman. Penuh coretan-coretan berwarna merah dan pink dengan berbagai bahasa. Ada beberapa tulisan: “girls power”, “in your spirit”, “brave”, “amore”. Ada satu buku berbahasa Prancis: Les Inséparables. Novel yang ditulis de Beauvoir pada 1954 tapi ia simpan, tidak pernah ia izinkan terbit semasa hidupnya.

Novel itu baru diterbitkan pada 2021, tiga puluh lima tahun setelah ia meninggal. Isinya tentang persahabatan yang ia jalin sejak kecil dengan Elisabeth “Zaza” Lacoin seorang gadis yang meninggal karena ensefalitis di usia dua puluh satu tahun. Simone menulisnya dalam sudut pandang orang pertama, menyamarkan nama mereka berdua, tapi tidak menyamarkan rasa kehilangan yang ada di setiap halamannya. Kover buku di atas nisan itu sudah melengkung, basah.

Di depan makam, Andi diam cukup lama. Simone de Beauvoir adalah salah satu rujukan utama tesis S2-nya di kajian gender. Ia sering mengutip kalimat yang mungkin paling terkenal dari de Beauvoire: one is not born, but rather becomes, a woman. Kerangka untuk melihat bahwa gender adalah konstruksi sosial.

Melihatnya berdiri diam di sini terasa seperti melihat seorang murid yang akhirnya berjumpa guru yang sudah lama didengar dari jauh.

***

Montparnasse punya sejarah panjang sebagai tempat berkumpulnya seniman dan intelektual Paris. Pada 1920-an dan 1930-an, kawasan ini adalah jantung kehidupan artistik kota. Hemingway menulis tentang kafe-kafenya dalam A Moveable Feast — La Rotonde, Le Select, Café du Dôme — tempat ia duduk berjam-jam dengan segelas wine dan selembar kertas. Para seniman dari seluruh dunia datang ke Montparnasse membawa mimpi dan koper yang setengah kosong.

de Beauvoire dan Sartre adalah bagian dari generasi yang mewarisi dan kemudian mengubah wajah Montparnasse itu. Mereka bukan seniman yang meminum anggur sambil mengobrol tentang keindahan. Mereka berdebat tentang kebebasan, tentang apa artinya menjadi manusia di abad yang penuh kehancuran. Kafe Les Deux Magots dan Café de Flore di Saint-Germain menjadi kantor tidak resmi mereka selama bertahun-tahun.

Sartre meninggal April 1980. Pemakamannya mengundang sekitar lima puluh ribu orang turun ke jalan, mengiring jenazahnya ke Montparnasse. Di Youtube ada video yang memberitakan prosesi pemakaman ini. Petugas bahkan sampai kesulitan membawa peti jenazah Sartre dari mobil ke pemakaman. Salah satu pemakaman filsuf yang mengundang kerumunan terbesar.

Media-media Prancis menyebut bahwa puluhan ribu orang yang mengantar Sartre ke pemakamannya menunjukkan bahwa Sartre adalah monstre sacré, intelektual publik pasca perang dunia dengan pengaruh publik yang luar biasa.

Hari itu, de Beauvoire ada di sana, berjalan di antara kerumunan. Enam tahun kemudian, 1986, ia meninggal. Dimakamkan di tempat yang sama, namanya diukir tepat di bawah nama Sartre.

Tentang kematian dan kehilangan, de Beauvoire beberapa kali menulis tentang itu. Ia kehilangan sahabatnya, yang ia abadikan di Les Inséparables. Ia juga menulis A Very Easy Death, buku tentang kematian pelan-pelan ibunya yang sakit.

A Very Easy Death adalah memoar pendek tentang minggu-minggu terakhir kehidupan ibunya setelah didiagnosis kanker. Simone menemaninya hampir setiap hari, menyaksikan tubuh yang perlahan tidak bisa melawan.

Yang menarik dari buku ini bukan hanya deskripsi tentang sakit dan kematian. Yang lebih dalam adalah cara de Beauvoire  menceritakan hubungannya dengan ibunya. Ibu adalah perempuan yang dulu punya begitu banyak kendali atas hidup putrinya, dan bagaimana kendali itu perlahan berpindah tangan seiring tubuh sang ibu melemah sementara sang putri terus tumbuh dewasa.

De Beauvoire menceritakan semua itu dengan cara yang hampir datar, keseharian, tanpa melodrama. Ia sesekali menceritakan bahwa ia harus pergi ke Roma dan Praha menemani Sartre. Tapi di bawah nada itu kita bisa merasakan cinta yang terasa diam-diam dalam dari seorang anak ke ibunya.

Ia menulis bahwa cinta seorang ibu kadang berarti belajar menerima hidup anaknya apa adanya, bukan sebagaimana yang pernah dibayangkan. Dan di akhirnya, kematian adalah yang tinggal. Yang terus menanggung adalah yang masih hidup.

De Beauvoire menulis bahwa ketika seseorang yang kamu cintai meninggal, kamu membayar dosa telah bertahan hidup dengan ribuan penyesalan yang mengiris. Bahwa orang yang pergi itu tiba-tiba terasa semakin besar justru karena sudah tidak ada. Dunia yang selama ini tampak biasa mendadak terasa seperti ruang yang diciptakan oleh kehadiran seseorang. Ketika kehadiran itu hilang, ruangnya ikut runtuh.

***

Kami meneruskan berjalan ke dalam. Montparnasse lebih kecil dari yang aku bayangkan. Lorong-lorongnya teratur, hampir seperti grid, dengan pohon-pohon yang cukup rindang untuk membuat suasana tidak terasa suram. Pagi itu beberapa orang berjalan sendiri-sendiri, ada yang membawa bunga, ada yang sekadar berjalan pelan sambil melihat nama-nama di batu. Kuburan sebagai tempat orang hidup memilih untuk berada.

Aku menemukan makam Susan Sontag tidak jauh dari sana. Sontag adalah seorang penulis. Salah satu bukunya yang paling dikenal, On Photography, mempertanyakan bagaimana foto mengubah cara manusia melihat dan memahami dunia. Ia bilang bahwa kamera tidak sekadar merekam realitas, tapi ikut membentuknya.

Tidak jauh dari sana, ada makam Jacques Chirac. Ia presiden Prancis ketika negara itu juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2002. Untuk ukuran presiden dua periode, makamnya sederhana saja. Tidak ada buku di atasnya. Banyak bunga-bunga.

Beberapa analis politik bilang bahwa ia menang dalam pemilu karena timnas Prancis saat itu sedang bagus-bagusnya. Para pemain utamanya dari latar belakang keluarga imigran dan berhubungan erat dengan kolonialisme Prancis di Afrika. Sementara itu lawan politik Chirac adalah politisi sayap kanan Jean-Marie Le Pen yang sangat anti-imigran.

Tentu saja, cerita-cerita tentang politik itu dulu aku tahu bukan dari pelajaran sejarah atau buku politik, tapi dari Tabloid Bola. Efek tumbuh besar membaca tabloid olahraga adalah sesekali kita akan menyerap irisan politik dan sejarah dari sana-sini, tanpa sadar.

***

Sebelum keluar, kami kembali sebentar ke makam De Beauvoire dan Sartre. Dua turis tadi sudah pergi. Rombongan orang datang. Kami berdiri diam lagi sejenak sebelum keluar pemakaman. Les Inséparables masih ada. Halamannya pasti sudah lembab karena embun pagi.


Comments

Leave a comment