Mengapa orang sekolah sampai S3?

Itu pertanyaan yang saya ajukan ke diri sendiri bertahun lalu. Saat itu saya melihat beberapa kenalan senior yang pontang-panting buat melanjutkan sekolah, di dalam atau luar negeri. Ada yang meski dapat beasiswa tetep harus jual sawah, ada yang mesti ngutang ratusan juta. Merepotkan diri sendiri, batin saya saat itu.

Pertanyaan itu muncul lagi ketika saya berada di fase mencari sekolah dan beasiswa buat S3. Saya gantian merepotkan diri sendiri. Tapi kemudian saya bisa paham mengapa banyak orang menempuh S3 dengan segala tantangannya. Dari alasan yang “ideologis” sampai yang lebih sederhana: untuk memenuhi tuntutan profesi.

Untuk bisa sekolah, ada proses yang panjang dengan berderet kegagalan. Kegagalan-kegagalan yang tentu masih bisa menjadi kerikil di depan. Di awal saya sampai di Sheffield, setelah registrasi ulang dan dapat kartu mahasiswa, saya diajak ketemu direktur postgrad departemen. Ditraktir ngopi (saya pesan flat white 😅) dan diajak muter-muter gedung baru departemen, namanya The Wave. Saya cerita tentang betapa nervousnya saya memasuki dunia baru, untuk sementara mem-pause dunia lama. Kata direktur, sekolah S3 memang penuh tantangan. Tapi asal kamu ingat apa tujuanmu dan ikhtiar yang sudah kamu lakukan untuk bisa sampai ke sini, kamu pasti bisa menyelesaikannya. Saya mengiyakan.

***

Proses saya untuk sekolah terutama di S2 dan S3 sebenarnya tidak ada yang baru, atau menarik, atau inspiratif dengan drama di sana-sini. Ceritanya biasa saja. Mencoba gagal, mencoba gagal, mencoba gagal, alhamdulillah berhasil. Tentu ada teman-teman yang pinter dan langsung berhasil di percobaan pertama. Saya tidak masuk kategori tersebut.

Untuk master, saya apply beasiswa lebih dari 14 kali, yang berhasil hanya 1. Lebih mudah dapat kampusnya karena waktu itu saya memegang 4 LoA (SOAS, Goldsmiths, City, Leeds). Untuk S3 saya apply beasiswa 3 kali, 2 gagal di tahap wawancara, sekali berhasil. Kampus hanya daftar di Sheffield meski sempat mengontak calon supervisor di kampus lain.

Beberapa kegagalan ini ya biasa saja. Orang mencoba pasti kemungkinan cuma dua. Gagal atau berhasil. Dan saya punya prinsip, lebih baik menyesal karena gagal daripada menyesal karena sama sekali tidak mencoba. Kalau gagal harus melangkah seperti apa. Kalau berhasil mesti melanjutkan jalan yang bagaimana. Ketika gagal, saya sempat menangis sebentar, setelah itu melanjutkan hidup. Dengan beberapa teman dekat, paling misuh-misuh sebentar. Ketika berhasil, saya juga menangis sebentar, lalu menghadapi konsekuensi keberhasilan.

Yang ingin saya tekankan, kerja keras dan usaha kadang tidak cukup. Jadi jangan gampang percaya kalau kerja keras saja akan membawa keberhasilan. Orang gagal atau berhasil kadang-kadang tetap perlu – kata netizen – memeriksa privilige yang dimiliki. Sudah dapat beasiswa pun mesti memiliki “modal”, misalnya uang.

Lalu, mengapa Sheffield?

Beberapa teman bertanya mengapa saya memilih Sheffield, bukan di London atau kota besar lain. Yang pertama, sebelum kota, saya menentukan tempat kuliah berdasarkan calon pembimbing/supervisor. Saya menelusuri nama-nama, membaca tulisan-tulisan, lalu memutuskan mengirim email. Lain kali saya akan tulis lebih panjang soal alasan yg lebih akademis ini.

Kedua, tentang kota. Saya tidak cocok tinggal di kota besar. Di Jakarta saja tidak betah, apalagi di London. Itu mengapa saya memilih balik ke Jogja, dan sekarang memilih Sheffield sebagai tempat belajar. Kota ini terletak di karesidenan terbesar di UK yaitu Yorkshire, South Yorkshire tepatnya. Sebenarnya Sheffield termasuk 10 kota terpadat penduduknya di UK. Tapi beberapa penulis menyebutnya “the largest village in the UK” karena konturnya yang berbukit-bukit dan keberadaan salah taman nasional (Peak District).

Di Sheffield, taman-taman yang besar bisa ditemui dengan mudah. Hari-hari pertama di Sheffield banyak saya habiskan untuk jalan kaki menyusuri taman-taman tersebut, dari taman terdekat dari flat, sampai yg tertinggi di Sheffield. Selain untuk membentuk kesadaran spasial (maklum tipikal warga Jogja, mesti tahu timur barat utara selatan) juga survey tempat buat baca buku.

Kota ini berbukit-bukit, hilly, naik turun. Hari-hari pertama jalan kaki agak ngos-ngosan, setelah berhari-hari, ya tetep ngos-ngosan. Lumayan, setiap hari rata-rata 20 ribu langkah. Sementara itu, suasana batin saya tangkap dari beberapa cerita para penulis di Sheffield.

Di “desa” ini, selama beberapa tahun ke depan, saya berharap bisa belajar menjadi peneliti dan scholar yang baik…


Comments

Leave a comment