Yang terbaru di politik UK

Ada kesamaan antara cuaca dan politik Inggris, susah diprediksi meski seringkali langit berwarna abu-abu. 10 menit cerah, 10 menit kemudian hujan, cerah lagi. Lalu tiba-tiba panas ala negara-negara tropis. Dalam 10 tahun terakhir Inggris punya 6 perdana menteri dan kalau tensi situasi politik terus merangkak naik seperti diberitakan media-media, negara ini akan punya perdana menteri ke 7 dalam beberapa bulan ke depan.

Sambil menuntaskan satu bab tesis, bulan Mei saya lalui dengan hampir setiap pagi dan malam membuka YouTube Sky News atau mendengarkan radio BBC di latar belakang. Hampir semua berita membahas hal yang sama. Posisi Keir Starmer sebagai Perdana Menteri kini disebut untenable. Kata itu berulang-ulang muncul di mulut presenter, pengamat politik, oposisi, sampai anggota parlemen Partai Buruh sendiri.

Pemicu terbarunya pilkada awal Mei lalu. Partai Buruh, yang menang telak di pemilu nasional 2024, kehilangan sekitar 1.400 kursi di pilkada Inggris serta parlemen daerah di Skotlandia dan Wales. Reform UK, partai sayap kanan pimpinan Nigel Farage, merangsek ke banyak konstituensi tradisional Buruh di utara yang biasa disebut Red Wall. Hasilnya mengonfirmasi apa yang sudah lama dirasakan banyak pengamat dan lembaga survei. Starmer adalah Perdana Menteri paling tidak populer dalam sejarah survei modern di Inggris. Padahal ia baru dua puluh dua bulan menjabat.

Sebelumnya, Starmer kena imbas skandal Peter Mandelson. Ia adalah politisi senior Buruh yang ditunjuk Starmer sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat dan dipecat September 2025 setelah terungkap kedekatannya dengan Jeffrey Epstein, pedofil dari Amerika Serikat yang sudah meninggal. Mandelson bahkan diduga membocorkan informasi pasar yang sensitif ketika dulu menjadi menteri. Ringkasnya, dengan berbagai profil yang kontroversial tersebut, Starmer tetap mengangkatnya sebagai duta besar dengan melangkahi standar prosedur keamanan.

Efeknya, ketika pemberitaan media semakin membesar dan kontroversi demi kontroversi terungkap ke publik, Starmer terpaksa memecat Mandelson. Morgan McSweeney, chief of staff Starmer dan tokoh yang dianggap arsitek kemenangan partai Buruh di pemilu 2024, ikut mundur. Ia bilang ia bertanggung jawab penuh atas saran untuk mengangkat Mandelson. Kalau menyimak media-media Inggris dan follow banyak jurnalis Inggris di Twitter, sulit sekali mengabaikan berita-berita itu.

Politik Inggris tidak menunggu pemilu lima tahunan untuk menjatuhkan seorang perdana menteri. Berbeda dengan Indonesia yang presidennya dipilih langsung, perdana menteri di sini, technically, tidak dipilih langsung oleh rakyat. Ia adalah pemimpin partai yang memenangi mayoritas kursi di parlemen. Artinya, kalau partai pemerintah kehilangan kepercayaan, perdana menteri bisa digoyang dan dilengserkan dari dalam partai politik, tanpa perlu pemilu nasional. Pergantian ketua partai akan secara otomatis menjadi pergantian perdana menteri.

Mekanismenya beragam. Untuk Partai Konservatif, anggota-anggota partai akan mengirimkan lewat mosi tidak percaya dari anggota parlemen ke  Committee 1922 (semacam Dewan Syuro). Untuk Partai Buruh, bisa lewat tanda tangan formal yang membutuhkan dukungan 20 persen anggota parlemen partai (saat ini sekitar 81 anggota dari 400an anggota parlemen Partai Buruh), bisa juga lewat pengunduran diri massal kabinet yang membuat Perdana Menteri tidak lagi bisa memerintah seperti kasus Boris Johnson di 2022. Liz Truss bahkan tidak sampai 50 hari di tahun 2023.

Stabilitas yang dulu menjadi ciri politik Westminster sebelum Brexit tahun 2016, sekarang tampak rapuh. Setiap gejolak politik sangat mungkin membawa pergantian kepemimpinan.

Yang menarik, Starmer sekarang diserang dari dua arah sekaligus. Dari sayap kanan Partai Buruh, ada Wes Streeting. Menteri Kesehatan itu mengundurkan diri pada 14 Mei. Dalam surat pengunduran dirinya yang ia unggah di twitter, ia menulis kalimat yang langsung jadi headline media-media. Where we need vision, we have a vacuum. Where we need direction, we have drift. Itu adalah kritikan terhadap ketua partainya sendiri, Keir Starmer.

Penantang lain Keir Starmer dari sayap kiri partai ada Andy Burnham. Wali Kota Manchester, dijuluki King of the North. Burnham diasosiasikan dengan sayap soft left Partai Buruh. Lembaga-lembaga survei memberikan poin yang tinggi ke Burnham jika ada pemilihan ketua partai buat menggantikan Starmer, tanda bahwa dia populer. Problemnya, untuk menjadi pemimpin Partai Buruh dan Perdana Menteri, seseorang harus menjadi anggota parlemen, dan Burnham bukan anggota parlemen.

Di sinilah drama berikutnya. Burnham kelihatan tidak punya peluang sampai kemudian Josh Simons, anggota parlemen dari daerah pemilihan Makerfield, mengumumkan akan mundur untuk memberi jalan kepada Burnham. “Labour is imploding,” kata dia. Ini pengorbanan kursi yang langka di politik Westminster di mana seorang anggota parlemen mengundurkan diri untuk memberi peluang bagi politisi lain untuk menjadi anggota parlemen. Ini semacam Pergantian Antar Waktu (PAW) dalam literatur parlemen di Indonesia.

Tentu saja Burnham tidak otomatis duduk di parlemen. Karena anggota parlemen dari Makerfield mengundurkan diri, maka mesti ada by-election atau pemilu khusus untuk menentukan pergantian antar waktu. Dan kali ini pemilu by-election khusus untuk daerah Makerfield akan diadakan 18 Juni. Burnham harus memenangi pemilu ini dulu, dan kalau menang dan nanti jadi anggota parlemen ia mesti mencalonkan diri sebagai kandidat untuk menjadi ketua partai Buruh. Jalannya panjang.

Untuk memahami konfigurasi internal Partai Buruh, ada tiga arus yang biasanya disebut para pengamat politik. Hard left, yang diidentikkan dengan Socialist Campaign Group, adalah anggota-anggota parlemen yang punya haluan radikal. Mereka mendukung intervensi negara yang sangat kuat dalam perekonomian, nasionalisasi industri-industri besar (seperti kereta api, air, dan perumahan), serta kebijakan luar negeri yang anti-intervensi. Mantan ketua partai Buruh Jeremy Corbyn ada di sayap ini. Lalu soft left, lebih moderat dan mempraktikan apa yang disebut “pragmatisme radikal”. Kalau hard left ingin merombak total kapitalisme, faksi soft left punya pandangan untuk mereformasi kapitalisme agar lebih adil bagi kelas pekerja. Andy Burnham ditempatkan di sini.

Lalu di sayap kanan partai ada yang disebut sebagai Labour Right, mereka yang pro-pasar bebas, menolak nasionalisasi, dengan kebijakan luar negeri yang masih pro-intervensi ala negara-negara Barat. Mereka kerap disebut Blairite, yang diambil dari nama Tony Blair mantan ketua partai dan perdana menteri Inggris 1997 – 2008. Wes Streeting ada di faksi ini.

***

Sambil menyimak berita-berita itu, saya kerap berpikir bagaimana semua ini terjadi nyaris real time. Politik Inggris hampir tidak punya jeda.

Tensi di politik Inggris nyaris bisa diamati secara real time di media sosial khususnya Twitter. Banyak politisi akan membocorkan kabar terbaru kepada jurnalis-jurnalis yang dekat dengan mereka, biasa disebut lobby journalists. Lalu jurnalis-jurnalis tersebut akan membuat “breaking news” dengan menyampaikan kabar dan gosip politik tersebut ke media sosial yang kemudian menjadi berita. Menyimak timeline yang bergerak cepat itu, 1-2 hari adalah waktu yang lama dalam politik Inggris.

Sam Coates dan Berth Rigby, editor politik politik Sky News yang saya ikuti hampir setiap hari, sering terlihat di kamera dengan laptop terbuka, masih menyimak pesan dari sumber-sumbernya di Westminster. Beberapa kali ketika diwawancara, mereka bahkan menginterupsi dengan kabar breaking news terbaru. Jurnalis yang punya akses ke politisi senior di Westminster ini disebut lobby journalists. Mereka punya akses langsung ke politisi-politisi senior, dan rutinitas briefing off-the-record. Twitter, meski ekosistemnya berubah sejak akuisisi Musk, tetap menjadi medium komunikasi politik utama di Inggris.

Di Indonesia, tentu saja perkembangan politik nasional tidak serealtime ini di Twitter, kecuali di momen krisis yang melibatkan publik kebanyakan yang membuat informasi atau peristiwa tertentu bisa viral luar biasa. Berita politik kita lebih banyak digerakkan oleh siaran pers, podcast politik, akun-akun semi-anonim, dan kanal Youtube.

Di Inggris, lobby system menciptakan akses sekaligus ketergantungan. Politisi butuh jurnalis untuk menyampaikan pesan, jurnalis butuh politisi untuk eksklusivitas. Hubungan simbiosis yang oleh sebagian peneliti media disebut sebagai bentuk kompromi institusional. Dalam literatur jurnalisme politik di Inggris, ia kerap disebut menciptakan apa yang disebut sebagai revolving door.

Di era politik Inggris yang sangat volatile, sangat mudah melihat bagaimana revolving door beroperasi. Kalau tidak berhati-hati memahami latar belakang siapa membicarakan apa atau membocorkan informasi apa, kita akan gampang tersesat dalam kabut politik Inggris yang semakin pekat.


Comments

Leave a comment